Rhenald Kasali : Guru Berpikir dan Guru Kurikulum

Posted by Admin on Artikel
Rhenald Kasali : Guru Berpikir dan Guru Kurikulum

Sastrawan dan filosof George Bernard Shaw mengatakan hanya 2 % manusia yang berpikir, 3 % berpikir bahwa mereka berpikir, dan 95 % lebih baik mati dari pada berpikir. Mengomentari kata-kata George Bernard Shaw tersebut pakar manajemen perubahan, Rhenald Kasali, mengatakan, hanya 2% dari seluruh guru yang benar-benar menjadi pendidik, yaitu guru yang kreatif yang membentuk manusia. Sekitar 3% sibuk menjadi administrator, dan selebihnya adalah “guru kurikulum” yang hanya menjalankan perintah dengan menyelesaikan kurikulum yang diwajibkan. Apa isi buku, itu yang diberikan.

Selanjutnya dikatakan, bahwa di banyak Negara, sebagian besar penduduk berprofesi sebagai pegawai. Dan hanya kurang dari 2 % penduduk yang membangun usaha dari nol menjadi pengusaha menengah dan besar. Dari ratusan professional yang bekerja di perusahaan, kurang dari 2 % yang menjadi eksekutif, atau menjadi pejabat eselon satu di pemerintahan. Diantara pemimpin itu hanya sekitar 2% yang benar-benar melakukan perubahan. Selebihnya terbawa arus, memimpin dengan cara yang sama berulang-ulang seperti para pendahulunya kendati zaman dan dan persoalan yang dihadapi sudah berubah total.

Benarkah kita menjadi guru yang tidak melakukan perubahan terhadap diri dan peserta didik, menjadi “robot kurikulum” yang tidak berani atau tidak bisa melakukan kreasi inovasi demi efektifitas pendidikan?

Apakah kita guru yang mengeluhkan UU Perlindungan anak dengan mengatakan, “saya menjadi guru baik, karena cara mendidik guru saya dulu juga secara keras ………..” Atau mengeluhkan murid-muridnya yang nakal dan sulit diatur. Atau terlalu sering mengeluhkan tunjangan profesi ang tidak kunjung cair sementara pembuatan rencana pembelajaran terbengkelai, malas untuk membaca apalagi membeli buku-buku  atau mengakses informasi demi pengembangan diri dan profesinya.

Apakah kita guru yang berkomitmen  seperti guru-guru di Finlandia yang dikenal sistem pendidikannya terbaik, “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya”.  Apakah kita guru yang berwibawa dimata siswa. Guru yang sangat menghindari member kritik terhadap pekerjaan siswa, tetapi justeru mengajak para siswa untuk membandingkan dengan nilai sebelumnya yang pernah diraih (konsep Ipsative). Guru yang menghindari memvonis siswa dengan mengatakan “Kamu salah”, karena anggapan hal biasa jika siswa melakukan kesalahan, termasuk dalam mengerjakan soal-soal. Guru yang belajar mengajar dua arah, suasana kelas menjadi cair, menyenangkan, menggugah pemahaman  serta kesadaran. Guru yang benar-benar menekankan pendidikan pada proses, bukan sekedar hasil, sehingga rencana pembelajaran dibuat dengan sungguh-sungguh dan bisa menjadi tulisan yang pantas dan layak didokumentasikan, bahkan dibaca orang lain menjadi sumber acuan dan inspirasi. Guru yang mengerti betul karakteristik individu siswa-siswanya. Dan dia akan memperlakukan siswa sesuai karakteristiknya.

Apakah kita menjadi administrator pendidikan yang mampu menyiapkan instrumen bagi guru yang mendorong agar guru kreatif atau sebaliknya malah membelenggu para guru untuk tenggelam dalam pekerjaan administratif yang membosankan dan menjengkelkan. Apakah kita menjadi administrator yang membangun sistem yang mendorong guru menjadi guru inspiratif, membangun iklim pendidikan dengan kebijakan-kebijakan yang mendorong motivasi pengembangan diri guru secara menyenangkan dan bukan membelenggu.

Apakah kita adalah pengurus organisasi profesi guru yang tidak sekedar giat melakukan perlindungan dan advokasi profesi serta hak guru, tetapi juga mampu mendorong peningkatan kualitas dan kemartabatan guru. Pengurus yang mampu membangun iklim solidaritas untuk tumbuh kembangnya guru yang professional, bermartabat, sejahtera dan terlindungi.

Apakah kita adalah orang tua bagi anak-anak di rumah mampu mengambil peran sebagai guru sejati. Sementara guru-guru di sekolah adalah sekedar menerima titipan untuk mendidik hal-hal yang orang tua tidak mampu. Atau hanya menjadi orang tua yang sekedar berperan merawat, membiayai dan membesarkan anak, tanpa kontribusi mendidik. Apakah kita orang tua yang mampu menyusun “kurikulum” pendidikan di rumah bagi anak-anak.

Setiap era dibutuhkan tokoh perubahan untuk terus mendorong agar kehidupan menjadi dinamis, tumbuh dan berkembang demi kemajuan, kesejahteraan, kecerdasan dan kedamaian. Dibutuhkan guru pembimbing, pelita dan pencerah bangsa. Perubahan selalu dimulai dari perubahan cara atau pola pikir, perubahan mental. Perubahan dari mental pemalas menjadi disiplin kerja keras dan belajar agar cerdas. Perubahan dari mental egois menjadi altruis, kesediaan memberi dan berkorban untuk kemuliaan hidup. Dari mental “nrimo” menjadi penumpang – penonton – penikmat menjadi mental “driver” – penentu – pencipta/produsen, mental pemenang. Dan semua ini dimulai dari guru.

Widadi

Ketua Pengurus PGRI Provinsi Jawa Tengah