Hasil UKG Jadi Cermin Bagi Guru

Posted by Admin on Berita
Hasil UKG Jadi Cermin Bagi Guru

Terkait UKG 2015 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswesan mengatakan, bahwa hasil pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 akan menjadi cermin bagi guru. Diungkapkan pula oleh Anies, setelah melihat hasil, pemerintah akan memberikan pelatihan kepada para guru sesuai dengan hasil yang dicapai pada UKG. Maka tiap guru akan mendapat pelatihan yang berbeda. Ada pun pelatihan yang akan dilakukan pemerintah meliputi; pelatihan kelas jauh, face to face, diskusi kelompok, dan bimbingan individu. Para guru akan terus belajar memperbaiki diri dan mengembangkan kemampuannya.

"Setiap guru akan diberikan pelatihan yang berbeda berdasar kekurangan yang harus diperbaiki setelah UKG," kata Anies saat meninjau pelaksanaan UKG 2015 hari pertama untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta di SMPN 19 Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (10/11).

Sementara itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan bahwa tujuan Uji Kompetensi Guru (UKG 2015) salah satunya adalah untuk melakukan pemetaan terhadap kompetensi guru diseluruh Indonesia, data yang diperoleh nantinya akan digunakan oleh Pemerintah dalam menentukan kebijakan-kebijakan terhadap guru.
Kabid PTK Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Drs. Sulardi, M.Pd kepada reporter Derap Guru mengungkapkan kesiapan para guru di wilayahnya mengikuti UKG tanggal 15 s.d. 24 November 2015. “ada 8.891 guru di Surakarta siap mengikuti UKG, sebagian guru lain yang belum terdaftar sebagai peserta karena persoalan administratif akan menyusul kemudian”, jelas Sulardi.  Hasil UKG selanjutnya akan digunakan untuk melakukan pembinaan dan peningkatan kualitas guru. Sulardi yang juga Wakil Ketua PGRI Kota Surakarta ini berharap para guru mengikuti UKG dengan sungguh-sungguh untuk mengetahui kekurangannya dan selanjutnya terus belajar guna memperbaiki kualitasnya. Jika dalam UKG tahun 2012, nilai rata-rata nasional baru 4,7, tahun ini diharapkan mampu memenuhi nilai rata-rata 5,5.

Tindak Lanjut UKG

Jika selama ini banyak pihak menyatakan hasil UKG tahun 2012 belum ditindak lanjuti, Sulardi menolak anggapan itu. Menurutnya hal itu sudah ditindak lanjuti, meski diakui belum seluruhnya. “guru-guru yang nilainya kurang sudah diberikan pelatihan, meski belum seluruhnya. Bahkan satu orang guru SMK dari Surakarta yang memperoleh nilai terbaik dalam UKG 2012 telah dipanggil oleh Kemendikbud untuk mengikuti kegiatan di Belanda”, jelasnya.

Semangat Belajar Guru

Ketua PGRI Kabupaten Banyumas, Takdir Widagdo menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan UKG 2015 sebagai alat pemetaan kemampuan guru. “Kami mendukung UKG 2015 untuk pemetaan dan dasar pembinaan peningkatan kemampuan guru melalui diklat. Karena itu setelah UKG 2015 mesti ditindak lanjuti dengan kegiatan-kegiatan diklat untuk guru”, jelasnya. Terkait dengan itu Takdir mengusulkan agar diklat guru dilakukan secara berjenjang berdasarkan nilai UKG. Misalnya, diklat tingkat dasar (0 – 50), tingkat menengah (51 -75), tingkat lanjut (76 - 85), dan tingkat paripurna (86-100) atau dengan rumusan lain yang lebih tepat.

Hal positif yang juga dilihat Takdir dengan adanya UKG 2015 adalah meningkatnya semangat para guru untuk belajar dan berupaya meng-up date kemampuanya. “UKG di Kabupaten Banyumas dilaksanakan tanggal 9 – 16 November, semua berjalan lancar dan para guru nampak bersemangat mengikutinya”, jelas Takdir

Menolak dipublikasikan

Terkait isu adanya rencana pemerintah (Kemendikbud) yang akan mempublikasikan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG), Takdir Widagdo menyatakan menolak. Menurutnya hasil uji kompetensi merupakan hak para guru, sehingga tidak perlu menjadi konsumsi publik. ”Bagaimana kalau hasil uji kompetensinya rendah, tentu hal ini akan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap guru. Karena itu, kami menolak kalau hasil UKG dipublikasikan. Kalau kepercayaan masyarakat terhadap guru dan dunia pendidikan rendah, dampaknya akan sangat luas”, jelasnya.

Hafidz, Kepala SDN Polaman, Gunungpati, kota Semarang saat diminta pendapatnya mengaku senang mengikuti UKG untuk mengetahui kemampuan diri dan selanjutnya dapat menjadi dasar untuk peningkatan mutu keprofesionalannya. Guru berusia 50 tahun ini juga mengaku tidak setuju jika hasil UKG dikirim ke sekolah dan orang tua. “Bukan hanya guru yang malu, jika hasil UKG-nya rendah tetapi banyak pihak juga akan merasakan dampaknya jika kemampuan guru dinilai rendah”, jelasnya.

Senada dengan Hafidz, wakil Ketua PGRI Kabupaten Kebumen, Wisman Irianto juga menyatakan menolak jika hasil UKG dikirim ke sekolah dan orang tua siswa. Jika tujuannya untuk pemetaan maka hasil UKG cukup diketahui oleh guru yang bersangkutan dan pemerintah /Dinas pendidikan sebagai bahan pembinaan untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan guru.

“Kami menolak keras upaya pihak manapun untuk mempermalukan guru dengan menyebar luaskan hasil UKG yang dinilai belum baik. Perbaiki kekurangan dan kelemahan tetapi jangan permalukan guru”, tegas Wisman.

Diminta pendapatnya tentang hal itu, Ketua PGRI Jateng, Widadi balik bertanya, “apa sih manfaatnya memberitahukan hasil UKG ke sekolah dan orang tua siswa”? “Jika tujuannya baik mestinya ditempuh dengan cara yang baik, cari cara lain bukan dengan cara mempermalukan”, imbuhnya.

Widadi yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, mengakui kondisi guru di Indonesia saat ini belum bagus jika dibandingkan kondisi guru di Negara lain yang lebih maju. Tetapi harus disadari, hal itu bukan sepenuhnya kesalahan guru. Karena itu, berbagai upaya harus kita lakukan, meningkatkan mutu guru sejalan dengan peningkatan kesejahteraan dan perlindungan terhadap profesi para guru.

“Selain ada penilaian dari luar, para guru juga harus bisa menilai dirinya sendiri untuk selanjutnya berupaya memperbaiki kekurangan dan kelemahan”, jelas Widadi. (d4)