Lewati Pintu Rasa Takut dan Harapan

Posted by Admin on Artikel
Lewati Pintu Rasa Takut dan Harapan

Hal-hal yang mempengaruhi atau, bahkan menjadi sumber sikap dan perilaku seseorang adalah komitmen, keyakinan, rasa takut, dan harapan atau cita-cita. Atau dengan kata yang lebih ringkas, karakternya. Pihak eksternal dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang lewat pintu rasa takut dan harapan. Maka muncul istilah intimidasi dan hukuman (punishment) untuk membuat seseorang agar tidak melakukan atau juga membuat seseorang terpaksa melakukan sesuatu dengan membuat rasa takut. Sebaliknya seseorang didorong untuk mau melakukan atau tidak melakukan dengan iming-iming (reward)

Takut, tidak takut dan harap menjadi kekuatan yang saling tarik menarik dalam diri seseorang.Rasa takut menjadi biang dari pesimisme, membuat seseorang takut mengambil resiko tidak berani melangkah ke depan. Rasa takut menjadi mental block yang akan menghalangi kesuksesan mewujudkan cita-cita.Bentuk rasa takut muncul dalam banyak wajah, seperti takut ditolak, takut dilecehkan, takut dinilai, takut gagal, dlsb. Survei membuktikan, hanya lima persen ketakutan manusia punya alasan. Sembilan puluh lima persen rasa takut tanpa alasan. Itulah kenapa Michael Jordan (pebasket dunia) meng-install dalam benaknya bahwa sebenarnya ketakutan manusia hanya ilusi, sehingga dia tetap mampu mencetak point di saat genting.

Banyak pelatihan-pelatihan pengembangan diri dilakukan untuk menghapus rasa takut seperti out bond dengan permainan-permainan ekstrem untuk menghilangkan rasa takut. Pelatih ahli bisa membimbing peserta berjalan di atas api, atau di atas pecahan kaca, tanpa rasa sakit, dengan meng-install pikiran bahwa api tidak panas, dst. Rasa takut terutama bersumber dari trauma masa lalu atau cara mendidik yang salah sehingga anak membangun konsep diri sebagai penakut atau pesimis. Rasa takut adalah memori jangka panjang yang tertanam dalam benak anak. Oleh karena itu mendidik dengan paradigma menghukum harus diubah menjadi konsekuensi. Anak lebih didorong untuk mandiri dengan pendidikan yang tidak terlalu protektif, dengan penanaman rasa tanggung jawab.

Sebagai contoh penanaman disiplin dengan tekanan dan ancaman terhadap anak, “jangan jajan di sekolah, makanannya tidak sehat ! Awas loh ! …….. “ Si anak akan jadi takut. Tetapi ketika melihat teman-temannya yang lain juga jajan, dan dia dirayu “ toh mama tidak melihat ….. “, maka si anak bisa berubah sikap, ikut jajan.

Berbeda dengan apabila kepada si anak dijelaskan dengan penuh kasih sayang tentang makanan berbahaya tersebut, diperlihatkan bungkusnya, isi kandungan makanan, resiko sakit, penderitaan saat sakit, dst, tentu dengan bahasa yang dimengerti anak, maka hasilnya akan berbeda. Sia anak akan tak mudah terpengaruh lingkungan. Penanaman disiplin dan tanggung jawab anak terbentuk lewat learning by doing dan learning by example. Anak akan meniru, terutama pada orang-orang terdekatnya. Dengan demikian, kalau orang tuanya takut pada benda-benda, makhluk atau peristiwa tertentu, sang anak akan “mengkopi“ (mirroring). Anak yang melihat kedua orang tuanya bertengkar karena masalah uang, dalam memori jangka panjang anak akan tertanam uang adalah jahat.

Memori jangka panjang atau trauma akan berhimpun menjadi kekuatan yang mem- blog jiwa untuk melangkah ke depan.

HARAPAN

Hidup harusnya berjalan ke depan mewujudkan cita-cita. Ibarat mobil, dipasang kaca spion untuk bisa melihat ke belakang untuk kehati-hatian dan menjamin keselamatan. Tetapi perjalanan tetap harus fokus ke depan meski boleh ingat pelajaran pengalaman masa lalu. Kepada setiap anak harus dibimbing mampu membangun  cita-cita serta optimisme untuk bisa mewujudkannya. Orang tua dan guru sebaiknya mampu segera menemukan bakat anak dan membangun minat agar anak bersemangat untuk mengasah kemampuan-kemampuannya. Setiap tempat, rumah, sekolah, tempat-tempat umum seperti taman, jalan, alat transportasi, tempat ibadah, dlsb harus dibangun menjadi rumah belajar bagi anak untuk mengasah bakat dan minatnya serta karakternya.

Menurut survei, satu persen orang menulis mimpinya, dan merekalah yang menjadi bilioner, menguasai keuangan dunia. Sementara itu tiga persen menceritakan mimpinya dan tujuh persen mengkhayalkannya. Penulis Laskar Pelangi mengingatkan, orang yang ingin sukses harus punya impian. Sementara peneliti DNA mengatakan, DNA manusia mengarah ke satu destinasi, yaitu impian. Banyak penerima Nobel dulunya adalah mahasiswa biasa dan anak dari orang tua biasa. Pikiran positif akan meng “on” kan unsur-unsur  DNA positif.

Kekuatan cita-cita atau impian (vision) akan menggerakkan (meng “on” kan) tindakan-tindakan (action), gairah  dan semangat (passion) dan kolaborasi (collaboration).

 

Kekuatan harapan harus selalu melampaui rasa takut. Kehidupan yang digelayuti rasa takut membuat kehidupan stagnan. Namun harus diingat manusia bisa diubah lewat rasa takut, bahkan rasa sakit, apabila rasa takut tidak cukup untuk mempengaruhi agar berubah. Misalnya koruptor harus dipertakuti dengan ancaman pemiskinan, agar menghentikan hasrat serakahnya.

Kekuatan harapan yang melahirkan karya prestatif perlu diapresiasi untuk menstimulasi agar orang berkenan membangun harapan atau impian yang member kemanfaatan.

Wallahu a’lam.

 

 

Widadi

Ketua Pengurus Provinsi

PGRI Jawa Tengah