Penanaman Nilai-Nilai Anti Korupsi di Sekolah

Posted by Admin on Artikel
Penanaman Nilai-Nilai  Anti Korupsi di Sekolah

Masa depan bangsa dan Negara Indonesia ini ada di tangan generasi muda. Generasi mudamerupakan agen perubahan(agent of change)karena  generasi muda sebagai penentu perkembangan ataupun kemunduran suatu bangsa dan negara, namun kenyataannya beberapa kasus korupsi yang melanda bangsa Indonesia melibatkan anak muda. Hal tersebut didasarkan karena sifat mayoritas anak-anak muda saat ini ingin mendapatkan sesuatu dengan “budaya formalin” cara cepat, sukses dengan cara cepat, kaya dengan cara cepat, dan semuanya ingin serba cepat.

Berikut adalah contoh generasi muda yang semula berprestasi tetapi ketika menduduki jabatan memilih untuk mengejar kekayaan dengan cara korupsi. Anak muda seperti ini mengabaikan nilai moralitas untuk mendapatkan kesejahteraan. Padahal kesuksesan yang hakiki hanya diperoleh dari kerja keras dan kesediaan berbagi banyak manfaat terhadap sesama.  Gayus Tambunan (lahir di Jakarta, 9 Mei1979; umur 35 tahun) adalah mantan PNS pada Dirjen PajakKementerian Keuangan Indonesia. Gayus merupakan siswa yang cerdas semasa sekolah, terbukti dia dapat masuk ke SMAN 13 Jakarta yang notabene merupakan SMA favorit di daerah Jakarta Utara, kemudian meneruskan pendidikannya ke Sekolah Tingi Akuntansi Negara (STAN) lulus pada tahun 2000. Setelah lulus dari STAN Gayus ditempatkan bekerja di Balikpapan. Gayus diangkat menjadi PNS golongan IIIA di Bagian Penelaah Keberatan pada Seksi Banding dan Gugatan Wilayah Jakarta II Ditjen Pajak. Kelangsungan karier Gayus terus berlanjut di Dirjen Pajak sampai diberhentikan karena tersandung kasus hukum korupsi Pajak pada tahun 2010.Gaji 12.1 juta per bulan masih belum memuaskan hasratnya untuk terus menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Hingga pada tahun 2013 sebelum dijatuhkan putusan inkrah untuknya, pemuda tersebut dilaporkan mempunyai kepemilikan harta sekitar Rp 100 miliar dengan bekerja hanya dalam waktu lima tahun di Ditjen Pajak. Harta itu tersimpan senilai Rp 74 miliar, yang terdiri atas berbagai rekening dan deposito. Harta bergerak lainnya berupa mobil Honda Jazz, Ford Everest, dan lain-lain. Gayus juga memiliki beberapa rumah dan 31 batang emas masing-masing 100 gram. “Budaya formalin”telah menjerumuskan dirinya ke dalam vonis inkrah oleh Mahkamah Agung pada tanggal 23 Juli 2013 lalu sehingga total hukuman Gayus menjadi terpidana 30 tahun. Suatu ganjaran yang mahal dibandingkan kesenangan yang didapat hanya sesaat.

Angelina Patricia Pingkan Sondakh atau dipanggil Angie (lahir di Australia, 28 Desember1977; umur 36 tahun) merupakan putri dari Lucky Sondakh, adalah contoh realita seorang generasi muda yang berprestasi dari kalangan keluarga berpendidikan dan berakhlak, ternyata dapat terjangkit virus korupsi. Angie meniti pendidikan dasar Laboratorium IKIP di Manado, Sulawesi Utara dan pernah belajar di Year 9-10 Presbyterian Ladies College, Sydney, Australia dan Year 11 Armidale Public High School, Armidale, Australia serta Unika Atmajaya Jakarta, Fakultas Ekonomi Pemasaran. Prestasi yang diraihnya cukup banyak diantaranya adalah, juara I lomba pidato Bahasa Inggris se-Sulut, juara I lomba debat ilmiah se-Sulut, juara I penataran P-4 Unika Atmajaya serta juara I lomba pemandu wisata Sulawesi Utara (1997), dan menjadi pemenang puteri Indonesia 2001. Pada 17 Agustus2002, dia meraih penghargaan Satya Karya Kemerdekaan dari Menteri Sosial Republik Indonesia. Sebagai anggota DPR gaji bersih Angie sekitar Rp 20 juta tidak membuatnya merasa puas, sehingga dia masih melakukan korupsi pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pemuda dan Olahraga. Akibat ingin cepat mengumpulkan harta tersebut maka prestasi dan perjuangan dalam mencapai popularitas hilang dalam sekejap karena pada tanggal  20 November 2013, hakim ketua pada majelis kasasi yang dipimpin Hakim Agung Artidjo Alkostar mengabulkan kasasi yang diajukan jaksa sehingga menjatuhkan vonis inkrah pidana 12 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 8 bulan kurungan untuk Angelina. Ibarat pepatah karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Korupsi

Korupsi di Indonesia sudah dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Berdasarkan surveyBadan Pengawas Korupsi Dunia,Transparancy International(TI) tahun 2013 Indonesia menempati urutan 114 negara terkorup di dunia dari 175 negaradengan indeks persepsi 32.Korupsi seperti telah menjadi way of life di Indonesia, apalagi virus korupsi telah menggerogoti generasi muda. Youth DepartementTransparancy International Indonesia, Lia Toriana menyatakan bahwa pemahaman anak muda tentang integritas sebenarnya cukuptinggi, hanya saja kondisi permisif dan tolerir  terhadap hal-hal yang tidak baik mempengaruhi perilaku anak muda. Terlebih jika mereka sudah masuk kedalam sistem, untuk itu sangat penting pembentukan karakter bagi generasi muda.Korupsi merupakan suatu tindakan yang menyimpang dan melanggar etika serta merugikan pihak lain. Tahun 2006 Komisi Pemberantasan Korupsi mendefinisikan korupsi sebagai semua penyalahgunaan penggunaan kewenangan yang menyebabkan kerugian negara oleh karena itu dianggap sebagai tindak pidana. Menurut KPK penyalahgunaan kewenangan dapat berbentuk: (1) suap menyuap, (2) penggelapan dalam jabatan, (3) perbuatan pemerasan, (4) perbuatan curang, dan (5) benturan kepentingan dalam pengadaan.

Tindakan korupsi merupakan sekumpulan kegiatan yang menyimpang dan dapat merugikan orang lain. Kasus-kasus korupsi banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pada lingkungan siswa di sekolah juga banyak ditemui praktek-praktek korupsi sederhana seperti mencontek, berbohong, melanggar aturan sekolah, membolos, sering terlambat dalam mengikuti sebuah kegiatan, dan terlambat masuk sekolah.Namun demikian hal kecil tersebut tidak boleh dibiarkan karena dapat menjadi bibit penyebar budaya korupsi. Untuk itulah perlunya pendidikan anti korupsi harus diberikan sejak dini dan dimasukkandalam proses pembelajaran mulai dari tingkat pendidikan dasar, menengahsampai pendidikan tinggi.

Akibat Korupsi

Korupsi sudah sedemikian menggurita dalam kehidupan masyarakat, yang paling dirugikan dalam hal ini adalah rakyat, karena sejumlah besar uang yang dikorupsi hakikatnya adalah uang rakyat. Korupsi merupakan tindakan yang dapat menyebabkan sebuah negara menjadi bangkrut dengan efek yang luar biasa seperti terhambatnya pembangunan nasional disebabkan oleh hancurnya perekonomian sehingga menyengsarakan masyarakat. Efek konkretnya adalah memperparah kemiskinan, pendidikan, pelayanan kesehatan menjadi mahal, fasilitas umum seperti transportasi menjadi tidak aman serta rusaknya infrastruktur jalan,dan yang paling berbahaya adalah meningkatnya angka pengangguran mengakibatkan angka kriminalitas pun meningkat. Korupsi juga memperburuk citra bangsa Indonesia di mata internasional.

Pendidikan Anti Korupsi (PAK)

Korupsi merupakan salah satu masalah serius yang dihadapi masyarakat dan Negara Indonesia, oleh karena itu memerlukan upaya luar biasa pula untuk memberantasnya.Selama ini upaya pemberantasan korupsi hanya fokus pada upaya menindak para koruptor (upaya represif), tetapi sedikit sekali perhatian pada upaya pencegahan korupsi (upaya preventif). Pendidikan anti korupsi merupakan upaya preventif yang dapat dilakukan untuk generasi muda,melalui 3 jalur, yaitu: 1) pendidikan di sekolah yang disebut dengan pendidikan formal, 2) pendidikan di lingkungan keluarga yang disebut dengan pendidikan informal, dan 3) pendidikan di masyarakat yang disebut dengan pendidikan nonformal. Pendidikan anti korupsi harus mengintegrasikan domain pengetahuan (kognitif), sikap serta perilaku (afeksi), dan keterampilan (psikomotorik). Nilai-nilai PAK harus ditanamkan, dihayati, diamalkan setiap insan Indonesia sejak usia dini sampai perguruan tinggi, bila perlu long life education, artinya nilai-nilai PAK menjadi nafas di setiap waktu, setiap tempat semasa masih hidup.

Metode PAK di Sekolah

PAK sangat penting dilakukan melalui jalur pendidikan. Model penyelenggaraan PAK dilakukan dengan 3 model yaitu: Model Terintegrasi dalam Mata Pelajaran, Model di Luar Pembelajaran melalui Kegiatan Ekstra Kurikuler, dan Model Pembudayaan/Pembiasaan Nilai dalam seluruh aktivitas kehidupan siswa.

Tujuan yang ingin dicapai PAK adalah: 1) membuat siswa mengenal lebih dini hal-hal yang berkenaan dengan korupsi sehingga tercipta generasi yang sadar dan memahami bahaya korupsi, bentuk-bentuk korupsi, dan mengerti sanksi yang akan diterima jika melakukan korupsi, 2) menciptakan generasi muda bermoral baik serta membangun karakter teladan agar anak tidak melakukan korupsi sejak dini.

Merealisasi Kegiatan Pembelajaran Penanaman Nilai-Nilai Anti Korupsi Siswa di Sekolah:

Kurikulum PAK tidak berbentuk mata pelajaran, melainkan nilai-nilai anti korupsi tersebut diintegrasikan ke dalam mata pelajaran. Nilai-nilai yang diajarkan dalam PAK adalah kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, kedisiplinan, keberanian, keadilan, kesederhanaan, kerja keras, dan tidak korupsi. Pendidikan ini mengarah kepada malu apabila tergoda untuk melakukan korupsi, dan marah bila menyaksikannya. Nilai-nilai anti korupsi dirancang pada mata pelajaran IPS yang terintegrasi dengan proses pembelajaran sebagai kurikulum tersembunyi. Nilai-nilai anti korupsi secara eksplisit terintegrasi dengan mata pelajaran PKn dan Pendidikan agama. Nilai-nilai PAK menjadi tanggung jawab semua guru mata pelajaran. Strategi PAK di Sekolah dilakukan dengan cara mengintegrasikan beberapa nilai dan perilaku anti korupsi ke dalam:

  1. Pengembangan materi, metode, media, dan sumber belajar pada setiap mata pelajaran, terutama mata pelajaran yang relevan.
    • PAK disesuaikan dengan dengan permasalahan kompleks dalam dunia nyatayang mencakup 3 domainyaitu kognitif (pengalihan pengetahuan), afektif (upaya pembentukan karakter), dan psikomotorik (kesadaran moral dalam melakukan perlawanan) terhadap penyimpangan perilaku korupsi.Media:yang dapat dipakai dalam pembelajaran PAK diantaranya: tabel angka korupsi, media audiovisual seperti video-video yang berhubungan dengan korupsi, studi pustaka tentang negara-negara maju yang hidup tanpa korupsi, media Ular Tangga Anti Korupsi, dan dengan permainan Gobak Sodor. Sumber Belajar: meliputi media cetak, media elektronik, dokumentasi produk hukum, koran, majalah, buku, annnual report, kitab, CD, internet, narasumber seperti penegak hukum (polisi, KPK, jaksa, hakim), ulama,audio, visual, audio visual rekaman/ tayangan persidangan kasus korupsi, dan UU terkait kasus korupsi.Pendekatan: Pembelajaran kontekstual(Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang disampaikan melalui pembelajaran kontekstual dapat menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan nyata. Strategi: PAK harus memberikan experiential learning, yang tidak semata mengkondisikan para peserta didik mengetahui, namun harus memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan pilihan untuk dirinya sendiri.Cooperative Learning merupakan  model pembelajaran dimana siswa belajar  dan  bekerja  dalam  kelompok-kelompok kecilsecarakolaboratif  yang  anggotanya  terdiri  dari  4  sampai  6  orang, struktur  kelompok  bersifat  heterogen.  Keberhasilan  belajar  kelompok  tergantung pada  kemampuan  dan  aktivitas  anggota  kelompok baik  secara individual  maupun  kelompok.Metode:active learning danstudent centered learning (SCL) merupakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan anak didik. Siswa terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran, metode pemberian keteladanan, penelahan berbagai modus operandi korupsi, serta studi kasus atau lapangan dan pemecahan masalah, pelatihan kejujuran dan kedisiplinan. Model pembelajaran yang berpusat kepada siswa diantaranya: Model Pembelajaran Jigsaw, Investigasi Kelompok (Group Investigation), Student Team Achievement Division (STAD), NHT (Numbered Head Together), Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving), Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), debate, ex change partner, games, role playing, dan sebagainya. Evaluasi: Teknik evaluasi autentik mengukur aspek verbal, kognitif peserta didik, juga mengukur karakter, keterampilan, kewaspadaan dan cara berfikir siswa dalam mengatasi masalah. Evaluasi yang dikembangkan dalam proses belajar pendidikan anti korupsi terdiri dari dua macam, yaitu test dan non test. Evaluasi dengan test menggunakan pertanyaan berbentuk essay untuk menguji pengetahuan (kognisi), sikap (afeksi), dan tindakan (psikomotorik) terkait dengan sejumlah masalah korupsi.Non Tes terdiri: kinerja, keterampilan, kumpulan hasil kerja (karya) siswa, potofolio berisi berbagai pengalaman dan pemikiran tentang problem korupsi.
  2. Pengembangan Berbagai Bentuk Kegiatan Kesiswaan
  3. PAK yang terintegrasi dengan mata pelajaran dan proses pembelajaran diimplementasikan di laboratorium warung kejujuran.Memberikan kepercayaan kepada siswa untuk mengelola warung kejujuran adalah bentuk tanggung jawab siswa kepada sekolah. Laboratorium warung kejujuran merupakan implementasi hasil penanaman nilai-nilai anti korupsi di kelas. Adanya laboratorium warung kejujuran menjadikan siswa memperoleh pengalaman secara langsung. Laboratorium warung kejujuran melibatkan beberapa mata pelajaran, diantaranya mata pelajaran IPS yaitu materi konsep jual beli, dan mata pelajaran PKn dan agama yaitu materi konsep kejujuran. Penerapan warung kejujuran dapat memberikan manfaat bukan hanya bagi siswa tapi juga berguna bagi guru dan sekolah. Tujuan warung kejujuran adalah membiasakan dan melatih nilai-nilai kedisiplinan, kemandirian, kejujuran, dan tanggung jawab. Kelak siswa akan lebih bertanggungjawab dalam menghadapi berbagai masalah di setiap langkah kehidupan serta membentuk sikap anti korupsi siswa.
  4. Dalam pelaksanaan kegiatan kesiswaan seperti OSIS, Pramuka, Kopsis, PMR, dan sebagainya mulai dari rencana, keputusan rapat, pelaksanaan kegiatan, dan hasil kegiatannya ditulis dalam jurnal kegiatan individual pengurus atau panitia yang sewaktu-waktu dapat dicek oleh siapapun dan diumumkan secara tertulis di Papan Informasi Kegiatan. Tujuannya agar dapat dibaca oleh seluruh warga sekolah. Untuk itulah perlu ditumbuhkan rasa dedikasi, keikhlasan, rasa pengabdian, demokratis, dan objektif dalam setiap sanubari anggota serta pengurus organisasi kesiswaan.
  5. Pembiasaan perilaku di kalangan warga sekolah. Dalam melaksanakan pembiasaan-pembiasaan perlu disampaikan pesan tentang sosialisasi dan ajakan untuk berperilaku anti korupsi sehingga dapat menumbuhkan pola pikir, sikap, dan perilaku anti korupsi di kalangan warga sekolah khususnya peserta didik:
  6. Pembiasaan yang dapat dilakukan secara rutin diantaranya ceramah kultum oleh seorang siswayang mewakili kelasnya secara bergiliran pada pagi hari sebelum masuk jam pelajaran pertama. Ceramah dilakukan di suatu ruang khusus misal ruang OSIS yang diperdengarkan melalui speaker yang sudah terpasang pada setiap kelas. Supaya efektif maka guru yang mengajar pada jam pertama wajib datang lebih awal lalu mengkondisikan siswa agar dapat berkumpul di masing-masing kelas secara tertib dan bersama-sama mendengarkan dari siswa penceramah. Hal ini dapat menanamkan sikap kedisiplinan, tanggungjawab serta kejujuran
  7. Sekolah sudah seharusnya memiliki “Bengkel Anti Korupsi”, yang di dalamnya berisi hasil-hasil karya siswa yang terbaik tentang anti korupsi, seperti poster-poster anti korupsi, puisi, sajak, karikatur, cerpen, cergam, opini, dan ulasan anti korupsi. Di “Bengkel Anti Korupsi” tersebut juga dibuatkan “Posko Benda Hilang”, yaitu tempat penampungan barang-barang yang ditemukan siswa dengan dicatat ciri-ciri benda tersebut, dan apabila ada siswa yang merasa bahwa barang miliknya hilang bisa datang ke “Bengkel Anti Korupsi” tepatnya di “Posko Benda Hilang”. Setelah siswa yang kehilangan barang tersebut menyebutkan ciri-ciri barangnya yang hilang, dan ternyata cocok dengan barang yang ditemukan tersebut, barulah barang dapat diambil.
  8. Ditekankan pada siswa untuk sholat dhuhur secara berjamaah bersama guru-guru saat istirahat kedua. Untuk itulah sekolah harus mengkondisikan agar siswa mempunyai waktu lebih banyak untuk persiapan sholat sampai dengan pelaksanaan sholat, kemudian dilanjutkan istirahat siswa. Misalnya jam istirahat kedua diberikan waktu ishoma selama 20 menit, hal tersebut melebihi jam istirahat pertama yang hanya 10 menit.
  9. Metode keteladanan. Para guru memberikan keteladanan kepada siswa dalam setiap langkah yang dilakukan guru, diantaranya tepat waktu masuk kelas maupun ke luar kelas, bersikap adil kepada siswa, bersikap jujur kepada siswa diantaranya tepat secara keilmuan dalam memberikan materi pelajaran. Apabila ada pertanyaan dari siswa yang tidak diketahui oleh guru, maka guru harus mengakui, serta tidak boleh sembarangandalam menjawab pertanyaan siswa tersebut. Hal ini menunjukkan kejujuran keilmuan seorang Pendidik.
  10. Model pendidikan anti korupsi dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti kepedulian terhadap lingkungan yang ditunjukkan oleh keberanian siswa dalam menegur temannya bila berbuat salah. Contoh ada teman yang membuang sampah di sembarang tempat atau menjumpai teman yang sedang merokok, bersikap tidak sopan terhadap guru atau sesama teman, maka harus berani menegur. Hal ini menunjukkan keberanian siswa untuk mengingatkan ketika ada teman yang berlaku salah.

Rakyat Indonesia dan generasi muda khususnya harus bangkit melawan penyakit korupsi stadium kronis,jangan sampai korupsi menggerogoti setiap sendi kehidupan masyarakat di Indonesia.Untuk itu marilah kita sukseskan PAK, hal-hal yang harus diperhatikan dalam PAK adalah:

Guru harus pintar memilih metode mengajar yang variatif, menyenangkan,serta mengaktifkan siswa, sehingga para siswa merasa nyaman dengan penambahan materi pendidikan anti korupsi yang diintegrasikan di dalam pelajaran. Apabila siswa merasa terpaksa dalam menerima PAK maka dikhawatirkan hal ini akan menyusahkan anak didik, karena muatan materi sudah demikian sesak dengan mata pelajaran yang harus dipelajari dan diujikan.Bila terjadi demikian nantinya anak didik akan terjebak dalam kewajiban mempelajari materi kurikulum antikorupsi yang pada akhirnya akan memunculkan antipati terhadap PAK. 

Pembelajaran jangan menekankan pada aspek hafalan saja atau indoktrinasi, namun harus memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan pilihan untuk dirinya sendiri (siswa). Maka model pengajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir para siswa serta dapat membangun komunikasi yang dialogis haruslah diutamakan, caranya dalam pembelajaran  dihindari metode hafalan di mana peserta didik menghafal teksatau kalimat tertentu dari buku pelajaran yang dipelajarinya.

Guru dalam memberikan contoh-contoh sebaiknyamenyajikan persoalan-persoalan kontemporer ke dalam materi pelajaran. Apabila hal ini diterapkan diharapkan mampu memicu pemikiran siswa semakin luas, sikap kritisnya tumbuh, dan daya kreatifnya berkembang.

Pada setiap memperingati hari-hari besar nasional dan keagamaan, atau pada akhir semester diadakan:

lomba-lomba antar kelas maupun individu yang bertema anti korupsi, diantaranya lomba pidato, melawak, membuat serta membacakan puisi anti korupsi, poster-poster anti korupsi, karikatur anti korupsi, dan cerpenanti korupsi

Mengundang narasumber dari: kepolisian, KPK, kejaksaan, kehakiman, ulama yang dapat memberikan wawasan dan memotivasi siswa untuk bersikap anti korupsi di segala bidang kehidupan

Menayangkan film-film anti korupsi

Pameran karya siswa di Bengkel Anti Korupsi

Merubah gaya pemikiran(mindset)generasi muda sekarang yang mempunyai anggapan bahwa orang sukses itu adalah orang kaya, hartanya banyak, dan kariernya mapan. Tanamkan pemikiran bahwakesuksesan yang hakiki hanya diperoleh dari kerja keras dan kesediaan berbagi banyak manfaat pada sesama.?

Membuat situs sekolah yang khusus membahas artikel mengenai anti korupsi agar siswa sebagai generasi muda lebih pro aktif dalam pemberantasan korupsi. Para pemuda sebagai aset suatu bangsa yang tak ternilai harganya harus memiliki tujuan hidup yang jelas, integritas dan tidak bergeming dengan cobaan dan godaan korupsi

Ditekankan kepada anak untuk memilih lingkungan bergaul yang baik, karena lingkungan dapat menjadi penentu perilaku seseorang. Lingkungan menjadi faktor penting dalam menentukan perilaku seseorang itu menjadi baik atau buruk.

Wahai Insan Indonesia marilah kita perangi korupsi. Rakyat Indonesia akan sejahtera tanpa korupsi.

 

Sri Herlina, M. Pd.

Guru SMP Negeri 1 Kajoran, Magelang