Dr. Tuswadi: Ketika Profesor Jepang Mengajarkan Science di Sekolah Dasar

Posted by Admin on Berita
Dr. Tuswadi: Ketika Profesor Jepang Mengajarkan Science di Sekolah Dasar

Sebagai seorang guru sekaligus mahasiswa riset di Graduate School of Education, Hiroshima University, Jepang, saya berkesempatan mendampingi profesor pembimbing blusukan ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan Science (IPA). Adalah HAYASHI Takehiro, D.Sc. Beliau merupakan salah satu profesor di Hiroshima University bidang pendidikan ilmu kebumian (earth science) yang juga menekuni riset pendidikan lingkungan hidup dan siaga bencana. Di kampus, beliau mengajar di dua fakultas (education dan international development & cooperation) Di bawah bimbingannya pula saya meraih ilmu dan gelar Master of Education dan Doctor of Phylosophy in Education (Ph.D. in Ed) setelah genap 5 tahun (2009-2014) kuliah di Graduate School for International Development and Cooperation, Hiroshima University.

Pada suatu hari saya menemani Profesor HAYASHI menjalani salah satu program pengabdian kepada masyarakat yaitu “Professor Goes to School” di dua sekolah. Sekolah Dasar yang pertama terletak di sebuah pulau terpencil (Yashirojima) dekat pantai di Yamaguchi Perfecture, sebelah selatan Hiroshima Perfecture. Di pulau tersebut, karena jumlah peserta didik cenderung menurun dari tahun ke tahun, akhirnya 3 buah SD yang ada di-grouping menjadi 1 saja. SD yang kedua adalah Sekolah Dasar Yukiminami di daerah pegunungan Hiroshima yang usianya lebih dari 140 tahun. Di kedua sekolah tersebut, bertempat di ruang laboratorium IPA,Profesor HAYASHI mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup untuk kelas V, bertema Air dan Bahaya Banjir serta Tanah Longsor, disaksikan oleh sejumlah guru yang hadir.

Proses Pembelajaran

Alat bantu mengajar yang digunakan adalah miniatur daerah aliran air sungai (DAS) dari plastik, kerikil-kerikil/batu berbagai ukuran, IPAD, laptop, dan layar(screen)/TV. Beliau juga menggunakan lembar kegiatan siswa (LKS). Langkah pertama, setelah memberikan salam, Profesor mengajak anak-anak mengingat kembali hal-hal khas di pulau Yashirojima, seperti makanan, buah-buahan, dan juga nama-nama sungai di dekat tempat tinggal mereka. Setelah itu, Profesor membagikan lembar kerja kepada semua peserta didik yang berisi pertanyaan seputar tema yang dipelajari. Misalnya, pertanyaan pertama, anak-anak dipinta untuk menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan kata air:mencuci, minum, sungai, banjir, dan sejenisnya. Profesor pun menuliskan kata-kata yang disebut oleh siswa di papan tulis. Menggunakan kata “sungai”, Profesor lalu menggiring siswa untuk berfikir mengenai benda-benda yang ada di dalam sungai; ikan, lumpur, batu, kerikil, dan sebagainya. Menggunakan pertanyaan demi pertanyaan di lembar kerja siswa, Profesor menuju ke kegiatan eksperimen untuk membuktikan kekuatan air. Anak-anak dipinta untuk maju ke depan, mendekati miniatur daerah aliran air sungai yang sudah dipasang di atas meja dan melihat bagaimana kerja air hingga mampu menghayutkan kerikil-kerikil berbagai ukuran dan bebatuan.

Menggunakan kran air, kekuatan air diatur dari lemah, agak kuat, dan kuat, dimana Profesor meminta anak-anak untuk menebak kira-kira kerikil atau bebatuan manakah (sesuai dengan ukuran) yang akan terbawa arus di sertai alasannya. “Makin kuat arus (air), makin habis kerikil kecil maupun besar tersapu oleh air. Makin tinggi derajat kemiringan tanah, makin riskan tanah dan seisinya tersebut tersapu oleh air (hujan).” Kurang lebih begitu pesan yang ingin disampaikan oleh Profesor. Karena di akhir kegiatan eksperimen, beliau bertanya satu hal, “Apakah kalian tahu kira-kira kondisi apakah yang dapat menyebabkan semua kerikil dan bebatuan di daerah aliran air tersapu habis dalam sekejap?”Beberapa anak menjawab, tetapi jawaban mereka kurang tepat, tetapi tetap diakomodir oleh Profesor dengan menuliskan kata kunci di papan tulis. Akhirnya pada detik-detik akhir, seorang anak menjawab, “Itu kalau tanahnya dimiringkan, sepertinya akan habis semua!” Profesor pun kemudian mengangkat miniatur daerah aliran air (memiringkan menyerupai daerah perbukitan) dan kemudian menyalakan kran air dengan kuat.

“Waaaaah! Benar!” teriak anak-anak di kelas menyaksikan semua kerikil dan bebatuan menggelinding semuanya ke bawah bersama air dengan amat cepat. BerikutnyaProfesor memperlihatkan video di layar kaca mengenai berita bencana tanah longsor di kota Hiroshima kepada para peserta didik.

“Kowaiiii!” kata beberapa anak melihat video banjir bandang menghancurkan pepohonan, membawa lumpur, potongan batang, ranting pohon, dan menghantam rumah-rumah penduduk. (Kowai= seram/menakutkan).

Di SD Yukiminami, karena letak sekolah tepat di sebelah bukit dipenuhi pohon pinus, Profesor lalu meminta anak-anak melongok ke jendela dan melihat papan (board) yang dipasang dekat dua buah rumah penduduk, di tepi saluran irigasi (sungai kecil). Di sana terbaca, “Daerah Riskan Tanah Longsor”

“Iya ya, daerah ini ternyata berbahaya!” celoteh anak-anak. Sebuah pertanda mereka mengerti dan memahami pelajaran yang telah disampaikan oleh Profesor. Menghabiskan waktu lima menit di akhir pelajaran, anak-anak dipinta untuk merangkum di buku catatannya masing-masing perihal hal-hal penting yang telah mereka pelajari. 

Diskusi

Di SD Yashirojima, usai pelajaran, sejumlah guru yang mengamati jalannya proses pembelajaranberkumpul dan melakukan diskusi dengan Profesor mengenai tahap-tahap dalam mengajarkan Science. Hal yang tampak begitu mencolok dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh Profesor adalah “proses berfikir” para peserta didik. Anak-anak tidak melulu belajar IPA sebatas hafalan, melainkan penuh dengan kegiatan yang membuat mereka berfikir secara mendalam (paham).

Guru-guru pun bebas bertanya kepada Profesor, termasuk mengungkapkan kesulitan atau masalah yang dihadapi dalam mengajarkan IPA. Melalui kegiatan “Profesor Goes to School”bukan hanya peserta didik yang mendapatkan pelajaran begitu berharga mengenai kehidupan mereka sebagai ummat manusia dan lingkungannya, tetapi para guru pun secara langsung mendapatkan model proses pembelajaran yang begitu membumi, yang dicontohkan oleh sang guru besar.#