Pasca Indonesia: Sebuah Dialektika

Posted by Admin on Artikel
Pasca Indonesia: Sebuah Dialektika

Lebih dari enam puluh tahun kita berdiskusi tentang  usaha melek huruf bagi kaum terbelakang yang belum dapat membaca dan menulis dengan huruf-huruf Latin. Namun diam-diam, kita kini sedang masuk ke dalam dunia zaman baru dengan orang-orang “buta huruf” jenis baru, yakni mereka yang belum dapat berbahasa matematika modern dan komputer.

Bila kita mendengar keluh kesah para orang tua dan para abang-kakak yang lemas tidak mampu menolong anak atau adik mereka yang harus membuat pekerjaan rumah matematika begitu baru dan canggih dalam mata mereka, maka kita dapat membayangkan bahwa memang kita kini sedang menjalani revolusi jenis baru yang tidak lagi berciri geopolitik atau kebanggaan.

Anak-anak kita diam-diam sedang “diculik” oleh suatu revolusi besar, masuk ke dalam era budaya pasca-Indonesia dan pasca-Einstein yang sangat besar pengaruh serta dampaknya.

“Demikianlah budaya pasca-Indonesia dan pasca-Einstein ini. Pada intinya mengatasi nasionalisme, bersifat global, dan merupakan proses yang alami, seperti kala kita mengatasi batas-batas sempit kesukuan dan kedaerahan, masuk ke dalam kesadaran nasional. Namun, itu tidak berarti keindonesiaan yang meniadakan segala warisan positif dari kebudayaan daerah kita masing-masing,” tulis Y.B. Mangunwijaya dalam Realitas Pasca Indonesia, Pasca Eistein, dalam Konggres Kebudayaan Indonesia, 29 Oktober-3 November 1991.

Lalu, akan ke mana dengan nasionalisme kita? Rupa-rupanya, demikian Romo Mangun, pemberian arti kepada nasionalisme di masa mendatang akan kembali berkembang dari akar-akarnya yang sejak awal mula dicita-citakan oleh Generasi 28, yakni kembali ke alur hakikat semulanya yang murni: pembelaan kawan manusia yang masih dijajah, yang masih miskin dalam segala hal, termasuk miskin kemerdekaan dan hak penentuan diri sendiri, menolong manusia yang tak berdaya menghadapi para kuasa sewenang-wenang yang telah merebut bumi hak pribadinya dan yang memaksakan kebudayaan serta seleranya kepada si Kalah. Hanya bedanya, dulu suasananya serba berbendera nasional, jadi selalu menghadap ke arah lawan asing di luar, sedangkan dalam kebudayaan pasca Indonesia batas-batas geopolitis itu akan semakin kabur.

Yang diambil oleh sari terbaik dari generasi muda nanti bukan hanya kulitnya saja, melainkan substansi dari motivasi dan inti cita-cita dari para Bapak Pendiri Republik kita. Jadi, tidak dihadapkan ke negeri asing melulu, tetapi ke dalam juga, bahkan ke diri pribadi sendiri. Dikatakan secara lain: lebih konsekuen, lebih konsisten, dan murni Pancasila dalam interpretasi yang lebih komprehensif dan hakiki, khususnya terhadap sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan sila Keadilan Sosial, tanpa mengabaikan sila-sila yang lain. Sebab, memanglah perjuangan para perintis kemerdekaan kita tidak diarahkan primer melawan Belanda, akan tetapi melawan sistem dan perangai kolonialisme-imperialisme itu atau – mengutip perumusan Bung Karno yang menyitir salah seorang pujangga Prancis – melawan exploitation de l’homme par l’homme.

Ketika itu, di emperan muka Istana Negara ibu kota RI, Yogyakarta, 1946, Bung Karno memberi gemblengan kepada para pemuda dan pemudi dalam acara yang disebut Kursus Pemuda. Dengan gaya bahasa yang memesona, beliau menggarisbawahi sikap sahabat RI yang paling gigih, Jawaharlal Nehru, yang pada waktu menghadapi krisis yang sama berpidato, betapa teguh niat bangsa India untuk mengusir orang-orang Inggris dari bumi India. “Namun, apabila kapal-kapal Inggris penuh warga Britania Raya itu mendekati lengkung cakrawala Samudera Hindia, maka Nehru akan berseru: “Wahai orang-orang Britania Raya! Kembalilah dan berlabuhlah lagi di bandar-bandar India, maka kami akan ajak kalian untuk bersama-sama kami membangun suatu India yang serba baru.”

Sudah sejak persiapan kemerdekaan dalam tahun-tahun Perang Dunia II, para Bapak Pendiri RI dari Generasi 28 sudah sadar akan bahaya nasionalisme sempit yang merupakan sumber malapetaka PD II. Maka, prinsip sila Nasionalisme sudah diimbangi dan direlatifkan oleh sila yang dulu disebut Internasionalisme dan yang sekarang mendapat perumusan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Generasi 28 yang masih begitu tergenang oleh pemerdekaan nasionalismenya, sudah sadar betapa nasionalisme memang bukan tujuan akhir. “Kemerdekaan bangsa adalah jembatan emas,” kata Bung Karno. “Kemerdekaan bangsa Indonesia hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih luhur, yaitu kemerdekaan manusia-manusia Indonesia,” ujar Perdana Menteri Pertama RI, Sutan Sjahrir dalam tahun-tahun 1945-1946. “Generasi sekarang yang pasca nasional dan pasca Indonesia jauh lebih dekat dengan Generasi 28 dari pada dengan Generasi 45 dan 66, “ tulis Y.B. Mangunwijaya dalam bukunya Pasca Indonesia Pasca Einstein, Esei-Esei tentang Kebudayaan Indonesia Abad ke 21.(sb)