R.A. Kartini, Guru dan Buku

Posted by Admin on Artikel
R.A. Kartini, Guru dan Buku

Siapa tidak mengenal R.A. Kartini? Sepertinya ini pertanyaan retoris yang sudah sangat jelas jawabannya. Benarkah kita mengenal R.A. Kartini? Mari kita telusuri beberapa pernyataan yang sudah sangat lazim kita dengar. Pertama orang sudah sangat biasa menyebut Kartini sebagai pelopor emansipasi kaum wanita Indonesia. Padahal sesungguhnya yang dikehendaki oleh Kartini adalah agar diupayakan pendidikan bagi anak-anak wanita. Tujuannya bukannya menjadikan mereka saingan bagi laki-laki dalam hidupnya. Kartini meyakini bahwa pendidikan berpengaruh besar sekali bagi kaum wanita: agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) kepadanya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. Dari pendapat itu, yang perlu dipahami bersama adalah emansipasi yang dimaksud Kartini memposisikan wanita sebagai pendidik anak-anaknya (penerus bangsa). Emansipasi bukan persamaan hak dan  kewajiban antara pria dengan wanita.
Dalam surat-surat yang dikirim untuk para sahabatnya di Eropa itu, pemikiran Kartini mengalami perkembangan. Kartini menulis: “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”. Ternyata menjadi wanita sepenuhnya baginya merupakan suatu proses tiada henti, sepanjang hayat. Rasa kebangsaannya tidak diragukan lagi dari cuplikan suran ini:“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan”.
Sebagai kaum terpelajar, dalam pingitannya Kartini mengisi hari-harinya dengan berbagai kesibukan yang bermanfaat. Diantaranya dengan membaca. Ia sering membaca surat kabar  yang terbit di Semarang De Locomotief yang diasuh oleh Pieter Brooshooft. Ia juga menerima leestrommel, paket majalah yang diedarkan toko buku kepada para pelangganannya.  Di antaranya terdapat majalah mengenai kebudayaan dan ilmu pengetahuan; ada juga  majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini tidak saja menulis surat kepada para sahabatnya untuk mengkomunikasikan idenya.  Beberapa tulisannya dimuat di De Hollandsche Lelie. Perhatiannya tidak saja tertuju masalah wanita, tetapi juga sasial, hukum Rupanya pengaruh buku bacaannya cukup dominan baginya. Buku karya Multatuli Max Havelaar tuntas dibacanya pada usia 20 tahun. Buku-buku lain berbahasa belanda juga dibacanya mulai dari roman feminis hingga anti perang.
Tidak mengherankan bila dalam salah satu suratnya ia menulis “Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi”.
Kalimat berjuang dan menderitalah yang ditulisnya, boleh jadi terpengaruh buku karya Multatuli yang sudah dibaca secara serius hingga dua kali.
Kedua,  kumpulan surat-suratnya yang dibukukan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Habis Gelap Terbitlah Terang tidak semata-mata berisi gagasan mengenai kemajuan kaum wanita dalam pembangunan bangsanya secara  isik. Akan tetapi ada yang lebih penting diungkap oleh Kartini mengenai pembangunan spiritual bangsanya. Pemahanannya akan agama yang diamutnya ternyata menjadi dasar yang sangat penting bagi sikapnya dalam menjalani hidupnya, berhaul dengan sesamanya dan beribadah kepada Tuhannya. Di salah satu surat dia menulis: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama Islam patut disukai”. Sebuah doa (permohonan) yang menggambarkan betapa ia berserah kepada Tuhannya. Segala sesuatu terjadi atas kehendaknya, bukan yang lain.“Tidak, ia tidak mempunyai ilmu, tidak mempunyai jimat, tidak juga senjata sakti. Kalaupun rumahnya tidak ikut terbakar itu dikarenakan dia mempunyai Allah saja” . 
Keteguhan hatinya itu menjadi sangat nampak setelah Kartini bertemu dengan seorang kyai di Semarang, seorang Kyai besar yang kelak pada saat Kartini menikah menberi hadiah sebuah kitab. Kini R.A Kartini telah tiada. Masih adakah penerus perjuangannya? Andakah?  (Artikel : Murywantobroto, Ilustrasi : Wawan)