PGRI : Jika Salah dalam Mendidik, bawalah Guru ke DKGI

Posted by Admin on Berita
PGRI : Jika Salah dalam Mendidik, bawalah Guru ke DKGI

Banyaknya guru yang dibawa ke persoalan hukum karena dinilai melakukan pelanggaran saat menjalankan tugas profesinya sebagai pendidik menimbulkan keprihatinan mendalam bagi PGRI sebagai organisasi profesi guru terbesar di negeri ini. Kepada guru yang sedang menghadapi persoalan hukum PGRI hadir membantu memberikan advokasi dan pendampingan melalui jalur litigasi maupun non litigasi. Demikian diungkapkan Ketua PGRI Jateng, Widadi, SH. Dijelaskan oleh Widadi bahwa upaya PGRI memberikan perlindungan kepada guru bukan hanya kepada mereka yang terlanjur menghadapi persoalan hukum tetapi secara preventif juga dilakukan untuk mencegah melalui kegiatan sosialisasi perlindungan hukum bagi guru. “Selain harus meningkatkan mutu professionalitasnya, guru juga diharapkan memahami hukum”, jelas Widadi

?Sidang di MK

Jika sebelumnya tokoh pendidikan Jateng, Dr. H. Sudharto, M.A dimintai keterangannya sebagai saksi  dalam siding di Mahkamah Konstitusi (MK) dalam upaya perlindungan hukum bagi guru yang diajukan LKBH PGRI Pusat, pada hari Selasa, 11 Juli 2017, ditempat yang sama (di MK) Ketua PGRI Jateng, Widadi juga diminati keterangan sebagai saksi.

Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd yang mendampingi ketua PGRI Jateng, Widadi saat sidang di MK mengungkapkan, bahwa sebagai saksi Pak Widadi tampil sangat memukau. “Beliau layak menjadi bintang”, Unifah memujinya. Menurut Unifah, Ketua PGRI Jateng, Widadi bukan saja menyampaikan pembelaan profesi guru yang bernas, melewati dari  sekedar berbicara mengenai sangsi yang diperdebatkan. Tokoh PGRI Jateng ini dinilai sangat kompeten menjelaskan tentang perlunya kesetaraan perlindungan bagi  siswa dan guru. Unifah mengaku sangat haru mengikuti sidang di MK dan mendengarkan Widadi menyampaikan pandanganya sebagai saksi. “Semua pertanyaan Hakim Konstitusi dijawab pak Widadi dengan amat mengesankan, jawaban dan penjelasan yang disampaikan sangat substantive”, jelas Unifah. 

Beberapa hal yang diungkapkan anara lain, bahwa guru adalah manusia. guru juga berhak bahagia, dengan segala kekuranganya, dan keinginanya untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. “Pantaskah jika ada  persoalan hanya guru semata yang disalahkan?”, ia bertanya.

Widadi mencontohkan pendidikan di Findlandia dan mengutip pandangan para ahli pendidikan hingga pikiran yang sangat religius. Ia melihat guru dari sisi insani, yang mebutuhkan emosi dan energi positif dalam melaksanakan tugasnya. Ia menyadari masih banyak kekurangan guru tetapi dimanakah negara hadir dalam memberikan penguatan 4 kompetensi guru sebagaimana diamanatkan UUGD? Bagaiman pola rekruitmen dan penbinaaan guru? “Kami sayang anak dan juga sayang guru. Karena itu hendaknya tri pusat pendidikan berjalan beriringan”, jelasnya.

Saat itu Widadi juga menjawab dengan lugas dan santun pertanyaan dari staf ahli pemerintah, bahwa ada 60 organisasi profesi  di tanah air, dan memberi contoh Kode etik tiga organisasi profesi yang berbeda-beda, lalu mau pilih mana? Dengan  tenang Widadi menjawab, “Itu ranah pemerintah, tidak pas ditanyakan pada kami, kenapa pemerintah membiarkan hal ini terjadi?,” tegasnya

LKBH PGRI

Unfah menjelaskan lebih lanjut, bahwa persidangan di MK mengenai Perlindungan Profesi Guru dimohonkan oleh  dua orang guru dan PB PGRI memberikan pendampingan Hukum melalui LKBH PGRI yang dipimpin  oleh  Dr. Andi Asrun  SH. MH. Unifah menjelaskan, pihaknya memohon agar diimplementasikannya UUGD pasal 7 ayat 1 butir ke delapan mengenai Perlindungan Guru dan Pasal 14 ayat 1. Intinya dalam Proses Belajar Mengajar peserta didik harus dilindungi dari semua tindak kekerasan namun demikian bukan berarti menegasikan Perlindungan terhadap guru. “Keduanya harus memperoleh perlindungan”, jelas Unifah.

PGRI  juga memohon kiranya DKGI sesuai ketentuan UUGD diberikan kewenangan untuk menangani guru yang dianggap melanggar ketika bertugas sehingga  tidak  langsung dibawa ke penegak hukum sebagaimana yang sering terjadi selama ini. (pur)