Catatan PGRI Sekitar PPDB 2017

Posted by Admin on Artikel
Catatan PGRI Sekitar PPDB 2017

PPDB SMA/ SMK dengan sistem daring(on-line) telah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Secara proses, masyarakat sudah “tune in”. Yang tidak mudah, dan berefek pada kegaduhan adalah mengubah pola pikir seperti di atas. Dengan berdalih hak asasi, spirit kompetensi dan lain-lain, sebagian anggota masyarakat keberatan dengan sistem rayonisasi dan kuota untuk siswa miskin. Mereka lupa bahwa ada nilai-nilai yang lebih luhur, yaitu kualitas pendidikan untuk semua (quality education for all) dan tidak boleh ada diskriminasi. Sekolah-sekolah favorit cenderung mendegradasi nilai luhur ini. Anak- anak pintar, cenderung lebih banyak dari masyarakat menengah ke atas, berkumpul di sekolah-sekolah favorit dengan “the best input”. Nilai luhur pemerataan tentu bukan sekedar kuantitas, tetapi juga kualitas. Bahkan penempatan guru-guru “hebat”, juga kepala sekolahnya, terdorong menggunakan ukuran-ukuran “favorit” tersebut.

HBH PGRI, gubernur berharap mutu pendidikan di Jawa Tengah terus meningkat https://t.co/KPIJnLeSe8 pic.twitter.com/EfOJIh7RIV

— pgrijateng (@pgrijateng) July 17, 2017

Dorongan membangun guru kreatif, guru yang membentuk dan merubah manusia berbasis potensi “istimewa” anak tidak/kurang dikondisikan. Guru-guru cenderung terbangun menjadi robot kurikulum, memindah isi buku ke kepala anak. Kuantitas dan nilai UN menjadi indikator”sukses” Bagi sekolah, guru, dan orang tua yang berpola pikir best process akan bersinergi.

Orangtua – guru – masyarakat, membangun iklim belajar yang efektif, kreatif, dan menyenangkan, di sekolah maupun di rumah. Tolak ukur sukses bukan hanya nilai ketrampilan vokasi (hard skill), lebih penting adalah kecakapan hidup (soft skill). Manusia dewasa tidak hanya memiliki kompetensi (kemampuan, iptek ketrampilan serta lainnya tetapi juga karakter yang kuat. Pilar pendidikan bermutu dapat digambarkan sebagai 1. Kultur/budaya, diawali dengan sistem keyakinan, nilai-nilai hidup, mindset dan niat/tujuan/cita-cita, merupakan kekuatan manusia diwarnai pola kepemimpinan (people power, leadership) 2. Struktur (regulasi, SOP, dst), merupakan kekuatan sistem (power system).