PGRI: Pengenalan Lingkungan Sekolah Bukan Bully Siswa Baru

Posted by Admin on Artikel
PGRI: Pengenalan Lingkungan Sekolah Bukan Bully Siswa Baru

Kita semua prihatin atas terulangnya aksi perundungan atau bullying pada siswa baru yang viral di media sosial. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (juga dikenal dengan nama MOPD/ MOS) pada setiap tahun ajaran adalah kegiatan awal membangun karakter peserta didik atau character building.  Berikut ini adalah pendapat pakar dan praktisi pendidikan yang pernah dimuat pada https://goo.gl/hhZ1Ea.

Widadi, S.H, Ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah saat diminta pendapatnya tentang bullying yang sering terjadi dalam kegiatan MOPD menungkapkan, bahwa bullying merupakan kekerasan fisik dan psikis yang seharusnya kita hindari tetapi faktanya banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat. Karena itu anak-anak harus dilindungi dari berbagai tindak kekerasan baik di rumah, di sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. “kewajiban orang tua, guru dan masyarakat untuk melindungi anak-anak”, tegasnya. Meski demikian orang tua sebaiknya juga tidak over protective terhadap anak. Berikan pemahaman kepada anak-anak bahwa dalam lingkungan kehidupan sering kita temukan berbagai perilaku masyarakat termasuk adanya bullying atau kekerasan. Dengan pemahaman yang baik, anak-anak akan lebih siap menghadapinya. Bekal itu akan lebih baik jika anak-anak dipersiapkan (dalam waktu tertentu) hidup bersama dalam lingkungan  masyarakat (live in).

Pendapat senada diungkapkan Ketua YPLP PT PGRI Semarang, Dr. Sudharto, M.A. Mantan anggota DPD RI (2004-2009) ini mengungkapkan, anak-anak harus dilindungi dan tidak boleh mengalami kekerasan baik fisik maupun psikis. Menurutnya bullying tidak ada manfaatnya bagi pelaku maupun korban. Karena itu mata rantai bullying harus diputus, tidak boleh lagi ada dalam dunia pendidikan. “Kita sudah terlalu jenuh melihat berbagai perilaku destructive dan kekerasan dalam masyarakat”, tegasnya. Menurut Sudharto, maraknya perilaku destructive dan tindak kekerasan itu menunjukkan bahwa kita gagal melakukan pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

MOPD sebagai kegiatan awal peserta didik baru, menurut Sudharto sebaiknya diisi dengan pengenalan sistem persekolahan yang dimasuki, baik yang berdimensi fisik maupun non fisik. Ketua DKGI Jawa Tengah yang memperoleh gelar Master of Art di Amerika Serikat ini mengungkapkan, bahwa kegiatan orientasi peserta didik baru di AS berlangsung sekitar satu minggu.  Selama + satu minggu itu anak-anak dibimbing untuk mengenal lingkungan sekolah dan bagaimana memanfaatkan sarana prasarana yang ada, diperkenalkan struktur organisasi sekolah, guru dan karyawan, serta informasi tentang proses pendidikan yang harus diikuti melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler, peraturan dan tata tertib yang harus diketahui dan dipatuhi peserta didik sebelum mengikuti proses pendidikan berikutnya. Meski hal itu juga dilakukan di sekolah-sekolah kita tetapi pelaksanaanya sering tidak maksimal dan banyak pihak turut mengatur pendidikan kita.

Untuk memperbaiki pendidikan kita, khususnya tentang pendidikan karakter maka MOPD sebaiknya juga menekankan pentingnya peserta didik memahami, menjiwai dan melaksanakan nilai-nilai karakter (12 living value). Untuk memastikan tidak adanya kekerasan atau bullying dalam MOPD, guru mesti terlibat penuh dalam kegiatan itu.  Para guru juga harus memahami UU Perlindungan Anak agar kegiatan yang dilakukan tidak dipersoalkan oleh orang tua dan masyarakat karena dinilai melanggar UU. Karena itu guru harus punya cara untuk mendidik dan mendisiplinkan peserta didik agar memiliki jiwa yang tangguh dan tahan uji.