Sambutan Presiden Pada RAKORPIMNAS PGRI

Posted by Admin on Berita
Sambutan Presiden Pada RAKORPIMNAS PGRI

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om swastiastu namo buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja khususnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Yang saya hormati Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur Kepulauan Riau serta Bupati Sleman,
Yang saya hormati seluruh jajaran TNI dan Polri yang hadir,
Yang saya hormati guru dan organisasi guru dari negara-negara sahabat (Brunei, Malaysia, Singapura, dan Turki) yang pada pagi hari ini hadir,
Yang saya hormati Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd beserta seluruh jajaran pengurus PGRI dari pusat sampai daerah, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, yang tadi waktu saya salami semuanya, ada semuanya, hadir semuanya,
Bapak/Ibu tamu undangan yang berbahagia.

Saya ingin bercerita sedikit mengenai tantangan-tantangan karena adanya perubahan-perubahan, yang ini harus kita sadari semuanya. Sehingga kita tahu antisipasi apa yang harus kita kerjakan dan persiapan-persiapan apa yang harus kita siapkan dan kita rencanakan.

Setelah saya bertemu dengan Presiden, Perdana Menteri, maupun Raja, Kepala Negara dari negara-negara lain, setelah saya berkunjung ke Silicon Valley, ke Google, ke Twitter, ke Plug and Play, ke Alibaba, saya melihat betapa perubahan itu betul-betul sudah berada di depan kita.

Kita ingat, keluar yang namanya internet. Kita baru belajar sudah nongol lagi yang namanya mobile internet. Mobile internet kita baru belajar, belajar, belajar, keluar lagi begitu sangat cepatnya artificial intelligence, mesin cerdas yang bisa menjawab apa saja dan sekarang sudah ada.

Ibu dan Bapak sekalian, Saudara-saudara sekalian, kita bisa bertanya ke Amazon, yang namanya Alexa. Saya pengen pergi ke restoran Padang, tanya ke dia, dijawab, “Bapak pergi saja ke alamat ini akan ketemu restoran Padang.” Kita mau tanya, mau ke masjid tanya ke Alexa dimana masjid yang paling dekat, ditunjukkan, “silakan berjalan satu setengah kilometer di jalan ini.”

Perkembangan-perkembangan seperti ini harus kita sadari semuanya. Belum kalau kita lihat coba, Elon Musk yang sudah berbicara mengenai hyperloop, memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain begitu sangat cepatnya. Dia juga berbicara masalah SpaceX, bagaimana mengelola ruang angkasa. Dia juga berbicara masalah Tesla, mobile fantastic masa depan tetapi dengan teknologi listrik yang sangat efisien.

Kita sekarang juga masih membayar dengan uang cash, sebagian sudah pegang yang namanya kartu kredit, itu baru sebagian. Tapi sekarang sudah pindah lagi ke yang namanya Paypal. Paypal belum selesai sudah pindah lagi ke yang namanya Alipay. Ini sudah berjalan. Sekarang orang membayar tidak pakai cash, tidak pakai kartu kredit, sudah pakai gadget, pakai gawai, pakai smartphone, tunjukkan, tik tik tik tik, duit kita hilang untuk membayar. Ini sudah berjalan.

Kita harus ingat bahwa 5 tahun yang akan datang, 10 tahun yang akan datang, 15 tahun yang akan datang maksimal, ini berjalannya bisa cepat dan bisa agak mundur sedikit, artinya apa, anak-anak kita harus kita persiapkan. Akan muncul nanti yang namanya Generasi Y, Generasi Y 5, 10, 15 tahun yang akan datang. Artinya anak-anak kita sekarang yang berumur 10 tahun, berumur 15 tahun, berumur 20 tahun itu akan masuk ke zaman itu. Generasi Y ini akan sangat mempengaruhi, mempengaruhi pasar, mempengaruhi landscape politik, mempengaruhi landscape ekonomi global, nasional, maupun daerah. Ini berjenjang datangnya tapi sudah tidak bisa kita tolak lagi, tidak bisa. Mereka akan mempengaruhi landscape politik global, nasional, maupun daerah. Mereka akan mempengaruhi landscape ekonomi global, nasional, maupun nanti di daerah.

Mereka sudah tidak membaca koran lagi nanti, 5 tahun-10 tahun yang akan datang. Enggak akan baca koran lagi, tidak akan lihat TV lagi. Mereka akan klik, pengen baca apa entah di dot apa, online.com. Mereka akan lihat, TV enggak mau lihat, mereka Netflix, mereka akan pilih video-video yang mereka sukai. Hanya dengan, dimanapun berada hanya dengan smartphone, dengan gawai yang dia punya.

Perubahan seperti ini yang harus kita sadari. Karena ini masa transisi yang akan mengubah, dan kita tidak bisa memperkirakan akan terjadi apa. Oleh sebab itu harus, sekali lagi harus kita antisipasi. Siapa yang bisa menyiapkan ini? Siapa yang bisa mengantisipasi ini? Bapak/Ibu Guru sekalian, Ibu dan Bapak sekalian yang hadir di sini.

Karena sekarang ini, mereka ada di bimbingan Ibu dan Bapak sekalian. Hati-hati, sekali lagi hati-hati. Jangan sampai arus perubahan itu mengubah sosial budaya, karakter anak-anak kita.

Bapak/Ibu sekalian,
Ibu dan Bapak sekalian sangat berperan dalam menyiapkan ini. Oleh sebab itu, dalam Rakorpimnas PGRI ini saya hadir untuk mengingatkan itu. PGRI akan sangat berperan sekali dalam menyiapkan, mengantisipasi itu. Karena pendidikan adalah jalan panjang dari sebuah bangsa untuk menjawab tantangan-tantangan yang ada dalam membangun martabat bangsa ini. Melalui pendidikan kita menguatkan identitas dan karakter kebangsaan kita Indonesia. Sekali lagi, ini adalah peran-peran guru.

Jangan sampai anak-anak kita dididik oleh medsos, jangan sampai anak-anak kita nanti dididik oleh perubahan-perubahan yang merusak karakter kita. Hati-hati. Semuanya harus mempersiapkan ini. Perubahan itu sudah tidak bisa kita tolak-tolak lagi tapi bagaimana kita mengisi agar perubahan itu bisa kita kendalikan, bisa kita kontrol, dan bisa kita menangkan dengan mengisi anak-anak kita dengan hal-hal terutama yang berkaitan dengan karakter.

Guru hendaknya bekerja bukan semata-mata menjalankan profesi, ini perlu saya ingatkan. Lebih jauh Ibu dan Bapak Guru mengemban tugas profetik, tugas nubuwwah, tugas kenabian dalam menjalankan misi menggali, menjalankan misi menyadarkan, menjalankan misi mengajak peserta didik, anak-anak didik kita pada kebenaran, pada kebaikan-kebaikan. Hati-hati, jangan sampai mereka diisi oleh yang tadi saya sampaikan, yang namanya media sosial, yang namanya smartphone yang isinya bisa macam-macam, bisa video, bisa videoblog, bisa Instagram, bisa Twitter, bisa Facebook, dan Telegram, dan yang lain-lainnya. Berada di satu kotak kecil itu saja. Hati-hati. Mereka bisa mendidik anak-anak kita kalau kita tidak memperkuat mereka dengan isian-isian yang baik.

Pada guru, bangsa ini menitipkan amanah, kita semuanya menitipkan amanah untuk memupuk, untuk memelihara serta mengembangkan jati diri, membentuk karakter anak didik kita. Sehingga nantinya akan muncul jiwa-jiwa yang mulia, jiwa-jiwa yang penuh integritas, penuh kejujuran, penuh moralitas, penuh akal budi yang baik, penuh budi pekerti yang baik. Ini adalah sebuah isian-isian yang perlu kita berikan kepada anak-anak kita dalam membendung arus perubahan global yang tidak bisa kita tolak lagi.

Kita sudah mempersiapkan yang fisik-fisik, infrastruktur. Jalan kita percepat, baik jalan tol dan jalan arteri, pelabuhan-pelabuhan, airport. Itu fisik-fisik. Tetapi yang lebih penting adalah penyiapan sumberdaya manusia. Kita harus meyakini itu, bahwa untuk memenangkan persaingan, untuk memenangkan kompetisi tidak ada kata yang lain kecuali mempersiapkan sumberdaya manusia, anak-anak kita, agar nanti bisa berperan penuh dalam membangun negara ini.

Kita juga tahu bahwa kita hampir tak memiliki masalah dengan yang namanya sumberdaya alam, ndak ada. Bandingkan dengan negara-negara yang lain. Juga masalah jumlah penduduk, kita memiliki penduduk yang sangat besar, 250 juta. Sebagai sebuah basis sumberdaya alam dan jumlah penduduk ini sebuah basis kekuatan ekonomi kita. Tetapi kalau sumberdaya manusia tidak disiapkan dengan serius, dengan baik, dengan pola pikir yang baru, dengan mindset yang baru, hati-hati. Kita bisa ditelan perubahan, kita bisa ditinggal negara yang lain.

Karena kita harus sadar, daya saing kita masih rendah, competitiveness kita masih rendah. Saya berikan contoh, saya mengalami sendiri. Orang kita, kita tungguin membuat pigura, satu hari bisa 400 pigura. Dengan mesin yang sama, yang bekerja orang Taiwan, yang nungguin juga dari sana, bisa memproduksi 4.000. Artinya apa? Yang pertama, bahwa etos kerja itu sangat diperlukan sekali, membangun karakter etos kerja itu penting. Yang kedua, masalah disiplin, disiplin nasional ini juga menjadi kunci. Saya senang sekali, setiap hadir di acara PGRI rapi, tertata dengan baik. Waktu tadi saya lihat memberikan penghargaan kepada para guru dan rektor tadi juga berjalan begitu sangat sistematis dan rapi. Cara-cara seperti ini yang harus kita berikan kepada anak didik kita, kepada peserta didik kita. Karena apapun, guru adalah teladan, guru adalah panutan dari anak didik kita.

PGRI sebagai organisasi profesi sekaligus sebagai organisasi perjuangan, lahir dan berkembang sejak masa kemerdekaan berperan strategis dalam mendorong perubahan bangsa ini melalui peran aktif para guru yang menjadi aktor utama. Guru menjadi aktor utama dalam pendidikan. Kita harus terus-menerus melakukan perubahan-perubahan, melakukan inovasi-inovasi, mengubah mindset, mengubah pola pikir kita semuanya untuk terus bersemangat dalam mendidik, meningkatkan pengetahuan, meningkatkan kompetensi sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan waktu, dan teknologi.

Saya senang tadi, bahwa mulai dibangun digital learning didampingi oleh Telkom. Saya kira memang harus seperti itu. Kita juga harus ingat, negara kita ini negara yang besar dengan 17 ribu pulau sehingga cara-cara dengan IT itu harus dimulai.

Kita juga ingin menjadikan sekolah sebagai rumah yang nyaman, yang gembira untuk peserta didik untuk belajar, untuk mendorong rasa ingin tahu anak didik kita. Kita ingin anak-anak kita dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang utuh, pribadi-pribadi yang cerdas, pribadi-pribadi yang berkarakter, yang kita harapkan mereka semuanya memiliki jiwa-jiwa yang mulia tadi. Karena itu, sekali lagi, para guru diharapkan dapat menjadi teladan bagi siswa dalam tutur kata, dalam perilaku, dalam menghargai perbedaan-perbedaan, menjaga kebersamaan, dan menjaga toleransi.

Saya sudah menyampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pendidikan kepada anak-anak kita tidak hanya di ruangan, bisa saja mereka diberikan PR misalnya menengok tetangganya yang sakit. PR-nya itu, menengok tetangganya yang sakit, menengok kawannya yang sakit. Anak didik kita bisa kita beri PR memberikan makan kepada tetangganya yang kurang mampu. Bisa saja kan. PR-PR itu tidak hanya matematika saja. Hal-hal yang berkaitan dengan jiwa kemuliaan itu bisa dijadikan PR. Ada pas kerja bakti kampung, anak-anak kita suruh ikut. PR-nya ikut kerja bakti kampung. Ambil gambarnya untuk diberikan kepada ibu dan bapak gurunya. Kenapa tidak? Inilah pembangunan karakter yang lama kita lupakan.

Oleh sebab itu, sekali lagi, marilah kita isi anak-anak kita dengan jiwa-jiwa yang baik, jiwa-jiwa yang mulia. Guru adalah tokoh panutan, guru adalah yang memberi inspirasi, guru adalah yang memberi teladan. Saya mengharapkan PGRI dapat mengajak dan mendorong para guru untuk menanamkan nilai-nilai dasar pendidikan karakter yang sangat penting bagi perkembangan anak seperti tadi saya sampaikan. Yang berkaitan dengan etos kerja, yang berkaitan dengan kejujuran, berkaitan dengan disiplin diri, integritas, kerja keras, sifat-sifat pantang menyerah. Sekali lagi, guru seyogianya bertugas membimbing murid tidak hanya dalam mata pelajaran yang diampunya, tetapi meliputi seluruh perkembangan dan perilaku murid-muridnya.

Saya mengucapkan selamat mengikuti Rapat Koordinasi Pimpinan Nasional PGRI dan saya mengharap melalui forum rapat koordinasi ini, rakor ini, dapat dirumuskan pokok-pokok pikiran yang penting bagi kemajuan pendidikan nasional dan guru. Saya juga mengharapkan PGRI semakin kuat diusianya yang saat ini terus mendewasakan diri menjadi bagian dari perubahan bangsa menuju kepada kemajuan, menuju kepada kebaikan.

Terima kasih dan saya ingin meneriakkan juga salam perjuangan PGRI,
Hidup Guru,
Hidup PGRI,
Hidup solidaritas.

Terima kasih,
Wassamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om shanti shanti shanti om. 

(Sumber : http://setkab.go.id)