Disruption

Posted by Admin on Artikel
Disruption

Disruption adalah membuat banyak hal baru sehingga yang lama ketinggalan, kuno, tak terpakai (doing thing differently so other will be absolete). Di era disrupsi ini, setidaknya ada sebelas permasalahan yang berhasil diinventarisir PGRI terkait dengan PGRI, yakni: Pertama, kecepatan menangkap perubahan. Kedua, respon strategis, masif. Ketiga, keanggotaan. Keempat, keuangan. Kelima, kaderisasi. Keenam, komitmen pengurus. Ketujuh, leadership. Kedelapan, modernisasi organisasi (sistem tata kelola). Kesembilan, komunikasi dan informasi. Kesepuluh, sdm kuat, solid, tetapi kurang strategis dalam mencapai visi misi. Kesebelas, kekuatan organisasi belum disatukan. Lantas bagaimana antisipasi PGRI di era Disrupsi? Yang pertama, PGRI menjadi kekuatan moral intelektual dengan basis kepada profesionalisme guru, untuk mewujudkan guru yang profesional, sejahtera, dan terlindungi. Kedua, GGI sebagai learning center. Ketiga, kolaborasi dengan berbagai pihak, pemerintah, swasta, dan dunia internasional. Keempat, membangun sistem keanggotaan, keuangan, dan perkantoran kerjasama PGRI-EI/CONSORTIUM PROJECT . Kelima, bekerjasama dengan Telkom membangun Indonesia Digital Learning. Keenam, bekerjasama dengan Microsoft membangun Indonesia borderless classroom. Ketujuh, membangun PGRI Smart Cloud. Kedelapan, leadership, kaderisasi melalui workshop disruption, self driving PB PGRI dengan Rumah Perubahan. Kesembilan, memperluas dialog, loby dengan berbagai tokoh dan pihak lintas organisasi. Kesepuluh, menempatkan kader-kader terbaik di pemerintahan, di berbagaii organisasi, dan jalur lain yang relevan. (Agus Wis-sb)