PGRI : Saat Marah Jangan Dekat Gadget

Posted by Admin on Berita
PGRI : Saat Marah Jangan Dekat Gadget

PGRI belum lama ini menyelenggarakan Seminar Pendidikan. Seminar dengan tema Meningkatkan Kualitas Hidup Bangsa Indonesia dengan Pendidikan Karakter. Bertempat di Gedung Wanita Purworejo, Seminar menghadirkan narasumber Ketua Pengurus Provinsi PGRI Jawa Tengah Widadi dan Rektor UNY Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. Dalam laporannya Ketua PGRI Purworejo Drs. Urip Raharjo, M.Pd. menyampaikan bahwa kegiatan seminar merupakan agenda tahunan PGRI Purworejo. "Seminar bertujuan mencari sinergitas bagaimana mengembangkan pendidikan di Purworejo melalui pendidikan Karakter,"ujar Urip. "Seminar diikuti 400 orang lebih, ini menunjukkan kekuatan solidaritas guru,"tambahnya. Selanjutnya Kepala Dinas Pendidikan Purworejo Dr. Ahmad Kasinu , M.Pd. menyampaikan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan seminar. "Seminar ini secara konseptual pasti memiliki manfaat tinggi saya setuju apabila dilaksanakan secara rutin,"ujar Kasinu. 

"Abad 21 merupakan abad perkembangan pendidikan: kemampuan literasi siswa harus ditingkatkan siswa bisa membaca cepat dengan teknik membaca cepat,"lanjutnya. "Para guru juga harus familier terhadap IT, program Bupati mewujudkan konsep IT langit Purworejo penuh informasi pembelajaran,"pungkasnya. Rektor UNY, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. sebagai narasumber pertama menjelaskan Tripusat pendidikan jika baik di keluarga di masyarakat juga baik. Ia juga menyarankan agar mengedepankan keluarga di sekolah. Sutrisna Wibawa mengakhiri paparannya dengan 3 syarat memenangkan persaingan global yakni kemandirian, daya saing, membangun peradaban yang unggul dan modern yang dilandasi tiga nilai dasar integritas, kerja keras dan gotong royong. Ketua Provinsi PGRI Jawa Tengah Widadi mengawali paparannya dengan mengingatkan bahwa mendidik harus dengan cara yang baik, rumah harus dibuat menyenangkan sekolah juga seperti itu demikian juga negara ujarnya. "Saat ini Dunia digital mengotori kenyamanan kita berita hoax, fitnah membuat hidup menjadi tidak nyaman. Grup WA medsos harus bersih dari ujaran kebencian jangan jadi tempat membuang keluh kesah,"lanjutnya.

"Ada ujaran pada saat marah jangan dekat anak, sekarang perlu diterapkan pada saat marah jangan dekat gadget,"tegasnya. Selanjutnya Widadi memberikan contoh negara Jepang yang memberikan perhatian terhadap anak mulai sejak dalam kandungan. "99% wanita hamil di Jepang resign/pensiun dini untuk merawat anak sampai usia 8 tahun,'terangnya. "Masa golden age merupakan masa-masa penting, sebuah "proyek besar","tandasnya. Widadi juga menyampaikan bahwa pihaknya pernah usul ke Presiden Jokowi agar membuat Buku Kecil untuk Orang tua, guru, dan anak sebagai bekal mengawal masa-masa penting tersebut. Lebih jauh lagi Widadi mengingatkan bahwa Pendidikan Karakter merupakan tanggungjawab semua Guru. Tidak hanya tanggung jawab guru bidang studi tertentu. "Seorang individu, institusi (termasuk negara) harus terus bertumbuh dengan karakter yang kuat. Karakter inilah yang memungkinkan sebuah entitas untuk bertumbuh secara berkesinambungan (suistainable growth),"jelas Widadi. "Karakter adalah “ciri khas”, “asli” dan mengakar pada kepribadian, merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar dan merespon sesuatu. Ciri khas ini diingat oleh orang lain tentang sosok tersebut, menentukan suka-tidak suka terhadap sosok,"lanjutnya. "Karakter memungkinkan individu atau institusi untuk mencapai pertumbuhan yang berkesinambungan karena karakter memberikan Konsistensi, Integritas dan Energi. Orang atau institusi yang memiliki karakter kuat memiliki momentum untuk mencapai tujuan. Karakter yang lemah/mudah goyah, akan lambat bergerak dan tidak bisa menarik pihak lain untuk bekerja sama,"pungkas Widadi. (yudi/d7)