Guru, Antara Peran dan Status

Posted by Admin on Artikel
Guru, Antara Peran dan Status

Status, posisi, predikat, label, jabatan dan sejenisnya menuntut konsekwensi peran yang seimbang, selaras dan serasi. Bagi masyarakat awam atau masyarakat yang masih lugu (polos), tuntutan peran terhadap pemegang status kadang melampaui peran formal atau normatifnya. Bagi masyarakat yang masih polos di pedesaan, peran guru dianggap sedemikian mulia/luhur, serba tahu dan menjadi contoh teladan. Bagi masyarakat perkotaan yang relatif berpikir maju apalagi yang sudah materialistik, peran guru sebatas peran formal, bahkan bisa jadi dianggap sebagai “pegawai” yang memperoleh gaji. Peran berkaitan dengan pengaruh, dan pengaruh berkaitan dengan kepercayaan. Orang berkarakter dan berkompetensi yang kuat mempunyai karisma, yaitu daya tarik atau kepercayaan.

Karakter bersifat tetap, ia menjadi daya tarik dan kepercayaan dalam segala situasi. Kompetensi bersifat situasional, ia tergantung pada apa yang peristiwa/situasi persyaratkan. Seorang guru yang karismatik bisa jadi tidak dipercaya untuk mengobati pasien, kecuali sang guru adalah sekaligus seorang medicus. Orang yang mampu mewujudkan peran melewati batas beban formalnya atau harapan khalayak akan memanen karisma. Ia bertindak secara ekselen, profesional dan etik. Selalu berusaha memberikan yang terbaik, dislipin dan berusaha lebih baik serta menaati keluhuran budi/etis. Orang yang karismatis tidak hanya kata-katanya, tetapi juga seluruh bahasa tubuh dan aktivitasnya melahirkan pengaruh : mencerahkan, menginspirasi dan menyadarkan. Orang yang menjalankan peran di bawah beban formal atau harapan khalayak akan kehilangan pengaruh dan kepercayaan. Bertambah tinggi status, bertambah besar tuntutan perannya.

Orang-orang yang berorientasi pada peran akan lebih produktif melaksanakan tugas melebihi yang seharusnya. Sebaliknya bagi yang berorientasi pada status, tidak atau kurang produktif, cenderung mengejar pencitraan atau reputasi lahiriah. Orang-orang yang berorganisasi atau berkegiatan sosial karena faktor ekstrinsik, memanfaatkan organisasi atau kegiatan untuk kepentingan egonya. Sebaliknya orang yang berorganisasi atau berkegiatan sosial secara intrinsik, karena panggilan hati, siap berkorban untuk kepentingan organisasi atau orang lain. Orang-orang berkarakter dengan panggilan jiwa ini tetap berkegiatan meski tanpa pujian, dukungan dan bahkan meski dicela/dikritik. Orang-orang ekstrinsik berkegiatan dan berharap pujian atau imbalan. Maka ia mudah kecewa dan mudah reaktif selengkapnya baca Derap Guru edisi oktober 2017.