Uang, Kebahagiaan dan Kreativitas

Posted by Admin on Artikel
Uang, Kebahagiaan dan Kreativitas

NG Aik Kwang, dosen, pakar kreativitas mengutip berita sebuah koran lokal dalam bukunya “Asia vs Barat” (2016) tentang sebuah keluarga Cina yang mobil Marcedes Benznya berulang kali digores pelaku vandalisme. Marah dan frustasi, pemilik mobil mengkilat mahal tersebut, seorang manajer perusahaan kimia yang sukses memutuskan untuk melacak si pelaku. Dia menghabiskan $ 15.000,- untuk peralatan video perekam. Dia dan istrinya bergantian berjaga sebentar di pagi hari, berharap untuk menangkap basah si pelaku dalam video. Usahanya berhasil. Tapi dia sungguh terkejut. Si pelaku ternyata tidak lain adalah tetangga sebelah rumahnya. Sang tetangga marah dan iri dengan Marcedez Benz barunya. Kwang mengatakan, pesan moral dan ceritera ini adalah uang bisa mendongkrak “wajah” bagi orang Asia, tapi tidak bisa membeli kebahagiaan.

Orang-orang yang menjadikan kesuksesan materi sebagai prioritas dalam hidup sering mengalami masalah kepribadian, seperti merokok dan minum-minum, rendahnya kesejahteraan subyektif seperti kecemasan dan depresi. Berbeda dengan mereka yang ingin mengembangkan hubungan yang akrab, menjadi peduli pada diri sendiri atau berbuat baik bagi orang lain. Dr. Richard Ryan dan Dr. Tim Kasser, yang meneliti responden di 13 negara mengemukakan hipotesis bahwa orang yang tidak bahagia cenderung lebih banyak mengejar uang dan ketenaran dibanding orang lain, untuk mencari kompensasi hal yang hilang dalam kehidupan pribadi mereka seperti perasaan terkait secara alamiah dengan orang-orang penting disekitarnya, misalnya keluarga.

Iri 
Mengapa sang tetangga iri? pepatah Jepang mengatakan “yang menonjol sendiri akan diserang” orang Jawa bilang “ojo suloyo”, “ojo nyleneh” (jangan berbeda dari komunitas). Sementara dalam budaya barat, pepatah Amerika “yang berbeda akan mendapatkan perhatian”. Dan dalam dunia marketing, ada prinsip diferensiasi, produk perlu punya ciri pembeda kalau ingin laku. Dalam budaya masyarakat kolektivistis seperti di Indonesia, kehidupan masih terikat dengan nilai-nilai komunitas. Berbeda dengan Barat yang individualis. Di Asia, juga Indonesia, berbeda beresiko tidak disukai. Pola pikir ini mengerem orang untuk berani kritis, dan orang terhambat untuk kreatif dan keberanian mengambil inisiatif, khawatir tidak direstui lingkungan.

Bahagia 
Emma Seppala, peneliti Universitas Stanford, menceriterakan pengalamannya magang di sebuah surat kabar berskala besar di Paris, Perancis. Ceritera saya kutip dari buku “Teach Lake Finland”, mengajar seperti Finlandia” (Walker, Timothy D, 2017). Seppala mengamati banyak penulis Amerika di lantai dua dalam kubikel, sementara di ruang bawah tanah terlihat kelas pekerja Perancis. Di lantai dua terasa atmosfer kerja penuh tekanan, sepi dan hanya terdengar orang mengetik dan mencetak. Para editor sebagian besar kelebihan berat badan dengan lingkaran hitam di bawah mata mereka terpaku pada layar, terus bekerja sambil makan pizza. Tapi di lantai bawah tanah, atmosfer “pesta” begitu terasa. Anggur Perancis, keju dan roti diletakkan di sebuah meja besar. Suasana menyenangkan. Dua kelompok melakukan tugas yang berbeda dengan budaya yang berbeda, tetapi keduanya bekerja untuk memenuhi tenggat waktu yang sama. Malam demi malam, apapun tantangannya, kedua kelompok berhasil menuntaskan pekerjaan mereka. Satu kelompok bekerja dengan penuh tekanan, kelelahan dan tampak tidak sehat, yang lain senang, enerjik dan berkembang. Seppala menegaskan “Penelitian dari dekade ke dekade telah menunjukkan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari kesuksesan namun kunci kesuksesan” . Di tahun 2016, sekolah komprehensif Finlandia menerapkan kurikulum inti Finlandia terbaru, dimana kebahagiaan diberi tempat utama sebagai suatu konsep pembelajaran. Di banyak negara, mulai muncul kesadaran bahkan gerakan untuk memprioritaskan kebahagiaan di lingkungan sekolah.

Kreativitas 
Orang tua dan guru yang bahagia mudah membangun konsep diri positif, dengan memusatkan segi positif anak. Kreativitas membutuhkan rasa percaya diri atas potensinya. Keberanian mencoba hal-hal baru yang beresiko dan berbeda (out of the box) Supaya menjadi percaya diri dan berjiwa gemar bertualang, membutuhkan ruang dan kebebasan untuk mengeksplorasi obyek lingkungan. Mereka melihat “tempat yang ramah, iklim yang mendorong otonomi dan kemandirian”. Yang terakhir ini mudah dilakukan oleh orang tua atau guru yang otonom dan mandiri. Rumah, sekolah dan lingkungan masyarakat diciptakan sebagai “taman” yang menyenangkan, mencerdaskan, menginspirasi dan mencerahkan (pembelajaran ilmu, kecakapan hidup dan nilai kehidupan). Bukan sekedar institusi moral, tetapi juga pembetukan kepribadian yang berkarakter dan kompeten. Bayty Jannaty (rumahku surgaku, kata Rasul SAW), atau dalam bahasa Itali niente senza gioia (tidak ada artinya tanpa kebahagiaan). 

Prof. Lee Yuan Tseh Ph.D., peraih Nobel dari Taiwan bidang kimia tahun 1986 mengatakan, bahwa kunci menumbuhkan kreativitas adalah membedakan pelatihan pelajar dan mendidiknya untuk menghasilkan pertanyaanpertanyaan baru dan memecahkan masalah untuk masa depan. Menurut Prof Lee, pelajar Eropa Timur dan Rusia sering memenangi penghargaan top di kontes sekolah internasional, tapi jarang melakukan terobosan ilmiah. Di sisi lain, pelajar Amerika jarang mencetak prestasi di kompetisi-kompetisi seperti itu, teryata banyak meraih Nobel di kemudian hari. Prestasi kompetisi internasional adalah pelatihan bagus dari sistem pendidikan yang kaku. Sementara prestasi dalam terobosan ilmiah adalah hasil pendidikan di masyarakat yang demokratis dan terbuka, tempat pelajar didorong untuk melemparkan pertanyaan dan menemukan jawabannya sendiri. Di Israel, orang tua biasa bertanya pada anak mereka “Pertanyaan apa yang kalian lempar hari ini?”. Di Indonesia, orang tua bertanya “Berapa nilai kalian?” Kreativitas adalah produk model pendidikan, yang berarti dipengaruhi juga oleh budaya keluarga, sekolah dan masyarakat. (Widadi, Ketua Pengurus Provinsi PGRI Jawa Tengah)