BEDUG PGRI: Bikin Educational Game Bersama PGRI

Posted by Admin on Berita
BEDUG PGRI: Bikin Educational Game Bersama PGRI

SALATIGA – Rabu (30/5) puluhan guru di Salatiga mengikuti kegiatan Workshop Pembuatan Media Pembelajran berbasis Game. Kegiatan yang diberi label BEDUG PGRI #1 (Bikin EDU Game) merupakan bagian dari Piloting Project Pengurus PGRI Jawa Tengah. BEDUG PGRI #1  yang dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB bertempat di Kantor PGRI Kota Salatiga di Jalan Argomas Barat Argomulyo Salatiga. Agus Rahmad Yuwanto, S. Pd. selaku Sekretaris PGRI Kota Salatiga berkenan membuka kegiatan tersebut yang mewakili Ketua PGRI Kota Salatiga Drs. Zaenuri, M. Pd. yang berhalangan hadir, karena adanya tugas lain. Dalam sambutannya, beliau Ketua PGRI Kota Salatiga berpesan agar kegiatan ini membawa manfaat bagi guru-guru di Kota Salatiga khususnya, umumnya dunia pendidikan di Indonesia, bahkan harapannya dapat bermanfaat bagi dunia Internasional.

“Animo guru dalam mengikuti kegiatan ini sangatlah besar, banyak Bapak Ibu guru yang terpaksa kami tolak karena kuota yang terbatas” tutur Dr. Herwanti, S.Pd., M.Pd.,  Ketua Panitia kegiatan BEDUG PGRI #1. Beliau berjanji akan menyampaikan aspirasi guru-guru di Salatiga dalam kegiatan berikutnya kepada Pengurus PGRI Kota Salatiga Jawa Tengah.“ 

Baca juga  "Pendidikan Karakter di Era Media Sosial"

Materi workshop terbagi dua sesi, sesi pertama disampaikan oleh beliau Saptono Nugrohadi dengan mengupas Makna Positif Game bagi Pendidikan dan sesi kedua Pembuatan Game dengan memanfaatan software scratch versi 2 yang dapat didownload di https://scratch.mit.edu/download. Dalam paparannya, Saptono menegaskan bahwa game atau permainan jaman old (tempo dulu) mempunyai banyak makna filosofi. Filosofi game tempo dulu diantaranya fun, kompetisi, seru-seruan, sosialisasi, menumbuhkan karakter, dan lain sebagainya. Permaianan lompat tali sebagai contohnya, penemuan permainan tersebut melalui sebuah proses. Yakni, proses menyusun tali gelang karet sehingga menjadi panjang dan lentur. Hal ini kontras dengan game jaman milenial. Game yang mengandung unsur teks, gambar/animasi, suara, interaksi, challenge, reward, psikologi pemain, dan autonomy.

Game memiliki potensi positif dalam pembelajaran. Dalam suasana penasaran dan fun, peserta didik akan menggali potensinya dalam mencapai target permaianan yang lebih sering dalam format point atau skor, level, maupun yang lain. Namun, tidak menutup mata bahwa game juga memiliki potensi negatif. Sudah banyak sekali contoh dampak negatif dari sebuah game. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi guru untuk mengubah dampak negatif itu menjadi sesuatu yang positif dalam pembelajaran. Salah satunya dengan memanfaatkan aplikasi yang terdapat dalam https://mit.edu. Selain itu, arahkan peserta didik untuk memainkan game yang sesuai ratingnya. Peserta didik usia 12 tahun tidaklah tepat memainkan game yang ratingnya 21+, begitu sebaliknya peserta didik usia 15 tahun memainkan game dengan rating 3+, karena secara emosional dan pola pikirnya berbeda.

Taufiq menyatakan bahwa di dalam https://mit.edu banyak sekali aplikasi pembuatan game yang dapat dibangun menjadi sepuah aplikasi game pembelajaran. “ Untuk membuat game, kita perlu membuat konsep permainan. Namun, kita tidak harus mencetuskan jenis game baru” tutur Muhammad Taufiq Anwar dalam mengawali sesi praktik pembuatan game edukasi. Taufiq juga menegaskan bahwa konsep tidak harus baru. Namun konsep harus jelas, baik struktur maupun tujuannya.

Contoh game yang sudah ada diantaranya  Endless Running: Minion Rush, Temple Run; Match 3: Candy Crush, Bejelwed; Platformer: Super Mario Bros; Space (shooter): Space Impact, Sky Force; Feeding Frenzy; atau Maze.

Tahapan dalam membuat game yaitu 1) menggerakkan tokoh utama (kontrol); 2) menggerakkan musuh / elemen lain (world); dan 3) membuat aturan (collision / touching). Taufiq kembali menegaskan “ kerjakan hal kecil inti terlebih dahulu dan pastikan berjalan dengan baik, kemudian tambahkan hal berikutnya”. Konsep if ... then ... atau jika ... maka ... inilah yang menjadi inti dalam menggerakan sebuah game.

Sebelum memulai praktik membuat game, pastikan sudah menginstall SCRATCH yang sudah didownload di https://scratch.mit.edu/download dengan versi offline editor dan juga menginstall Adobe AIR. Dalam praktik membuat game SCRATCH diawali dengan pengenalan tools yang ada. Kemudian memilih sebuah tema yang akan menjadi gambaran utama sebuah game dan hal ini sudah disediakan di dalamnya. Ambil contoh, kita akan membuat game dengan tema underwater.  Untuk memilih tokoh atau pemeran didalam tools SCRATCH, kita klik sprite yang sudah disediakan ataupun mengambil gambar tokoh dengan kamera/webcam yang ada. Langkah selanjutnya, susun script untuk menggerakkan tokoh tersebut. Tools yang tersedia yaitu motion, control, sensing, events, operators, sound, looks, pen, data, dan more blocks.

Dalam praktik membuat game, peserta tampak serius dalam mengikuti setiap langkah yang disampaikan pemateri. Trial and error pun menjadi sajian setiap peserta dalam menjalankan setiap fungsi if ... then ... . Gelak tawa pun menyelimuti ruangan yang sederhana yang dimiliki PGRI Kota Salatiga. Suasana puasa tidak mengurangi semangat peserta dalam mengikuti workshop BEDUG PGRI #1 hingga peserta tidak menyadari sudah melebih waktu yang disediakan.

Akhirnya kegiatan diakhiri dengan ceremony sederhana. Bertindak mewakili Ketua PGRI Kota Salatiga, beliau Mudjiati, M. Pd. selaku Bendahara PGRI Kota Salatiga yang juga sebagai Kepala SMP Negeri 6 Salatiga menyampaikan dalam sambutannya ucapan terima kasih kepada pemateri, peserta dan pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. “Kegiatan ini sebagai momentum awal untuk terus berkarya bagi pendidikan Indonesia dan jangan pernah berhenti untuk berinovasi”, tutur beliau sebagai ungkapan harapan PGRI Kota Salatiga. Kegiatan ini diselenggarakan di Kantor PGRI Kota Salatiga mempunyai maksud agar guru di Salatiga familiar dengan Gedung Guru di Salatiga ini, ungkap Mudjiati, M. Pd. dalam sambutannya. Permohonan maaf dari PGRI  Kota Salatiga yang tidak bisa menyediakan tempat, melayani dan memberikan apreasi yang maksimal dalam kegiatan ini tak luput pula disampaikan oleh Mudjiati, M. Pd. Kegiatan diakhiri dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan sesi foto bersama. (Muhamad Nurul Huda, S. Pd. SMPN 6 Salatiga).

Kembali ke atas