PGRI: Gerbang Kalam Guru, Gerbang Pendidikan Bermutu

Posted by Admin on Berita
PGRI: Gerbang Kalam Guru, Gerbang Pendidikan Bermutu

Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat (1) menyatakan, “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Ketentuan tugas utama guru sebagaimana tersebut diatas sering menjadi dasar dan alasan guru untuk menolak dan/atau tidak tertarik melakukan kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) dan penulisan karya ilmiah sebagai syarat kenaikan pangkat. Guru yang mau melakukan kegiatan tersebut saat ini jumlahnya masih sangat sedikit dibanding yang tidak mau. Banyak guru yang mengatakan bahwa tugas utama guru adalah sebagaimana tercantm dalam pasal 1 ayat (1) UUGD, kegiatan meneliti dan menulis  karya ilmiah itu sebagai bagian tugas dosen, bukan tugas guru.

Adalah benar bahwa kewajiban meneliti secara eksplisit tidak tercantum sebagai tugas utama guru, tetapi jika kita telaah kewajiban guru sebagaimana tercantum pada UUGD pasal 20 huruf (a) dan (b) serta pasal 8 Permenpan-RB nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan guru dan angka kreditnya. Kedua pasal tersebut mengamanatkan bahwa guru wajib melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu dan guru berwenang memilih dan menentukan materi, strategi, metode, media pembelajaran/bimbingan dan alat penilaian/evaluasi dalam melaksanakan proses pembelajaran/bimbingan untuk mencapai hasil pendidikan yang bermutu sesuai dengan kode etik profesi Guru.

Pada kenyataannya, banyak guru yang belum memenuhi ketentuan tersebut. Pembelajaran berjalan secara datar, asal selesai, asal habis materi pelajaran, sehingga proses pembelajaran berlangsung monoton dan membosankan. Hal ini berdampak terhadap rendahnya minat, aktivitas, dan hasil belajar peserta didik. Proses pembelajaran yang demikian semakin sulit mencapai hasil optimal ketika guru menghadapi siswa yang memiliki kesulitan memahami materi sebagaimana siswa-siswa yang lain.

Belum optimalnya proses dan hasil pendidikan bisa terjadi sebagai akibat guru yang belum menerapkan pendekatan, model, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bahan ajar  dan  kebutuhan peserta didik. Bisa juga karena guru belum menggunakan media pembelajaran atau alat peraga yang sesuai untuk menunjang penyampaian materi pelajaran. Untuk mewujudkan pendidikan bermutu dibutuhkan guru-guru yang bermutu. Guru yang bermutu rendah sangat berpengaruh pada proses dan hasil pembelajaran yang tidak optimal. Dan akibatnya adalah hasil pendidikan juga bermutu rendah. Meski diakui guru bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan tetapi peranan guru dalam hal ini sangat menentukan. Ada juga kritik lain yang mesti didengar dan dipahami para guru. 

Dalam dialog pendidikan di Gedung Guru Indonesia Jakarta, Selasa (10/07), Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati juga mengkritik pelaksanaan sertifikasi guru yang menurutnya tidak mencerminkan kualitas guru yang sesungguhnya. Dia mengungkapkan, bahwa pada mulanya berpikir kualitas guru ada pada sertifikasi. Tetapi sekarang menurutnya sertifikasi sering enggak mencerminkan apa-apa, hanya prosedural untuk mendapatkan tunjangan bukan berarti dia profesional, bertanggung jawab, berkualitas pada pekerjaannya.

Harus Segera Diatasi

Masalah tersebut tentunya harus segera diatasi oleh para guru. Guru dituntut untuk mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi guna meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar secara optimal. Tentunya hal tersebut butuh proses, memperbaiki mutu guru dan mutu pendidikan tidak bisa dicapai secara mendadak dan sim salabim. Penelitian Tindakan Kelas (PTK), menulis buku dan menulis karya ilmiah adalah jalan yang tepat dan seharusnya bisa dilakukan para guru. Meskipun itu bukan tugas utama guru, meneliti dan menulis yang dilakukan oleh guru adalah upaya mewujudkan pembelajaran bermutu sebagaimana diamanatkan UUGD.

Adanya kewajiban guru menulis KTI/PTK pada pada dasarnya di samping sebagai bentuk pengembangan profesi juga untuk mendorong guru agar memiliki budaya membaca dan menulis, karena dengan melakukan penelitian, tentunya guru otomatis dipaksa untuk membaca dan menulis, lalu menyusunnya menjadi sebuah laporan PTK. KTI/PTK jangan hanya dilihat sebagai syarat untuk kenaikan pangkat semata.

Gerbang Kalam Guru

Sejalan dengan tuntutan perkembangan dan upaya mewujudkan pendidikan bermutu, PGRI terus mendorong terselenggaranya berbagai kegiatan yang mengarah terwujudnya guru profesional. Untuk itu PGRI Jawa Tengah  telah membentuk Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS). Salah satu program kerja pengurus Provinsi PGRI Jawa Tengah tahun 2018 adalah melakukan konsolidasi kepengurusan APKS PGRI baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota. Penguatan peran APKS dalam kegiatan pengembangan profesi menjadi program utama. Ketua APKS PGRI Provinsi Jawa Tengah, Agung Purwoko mengungkapkan berbagai kegiatan yang telah disiapkan dan sebagian sudah dijalankan guna mendorong terwujudnya guru professional dan muaranya pada pendidikan bermutu.

Dijelaskan, melalui kegiatan penguatan pengembangan profesi telah dilaksanakan berbagai kegiatan pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif guru. Terkait dengan itu Agung Purwoko juga mengungkapkan adanya program “Gerbang Kalam Guru”. Gerbang Kalam Guru PGRI itu diperkenalkan, diprogramkan dan dilaksanakan oleh APKS PGRI Kabupaten/Kota dalam upaya mendukung Gerakan Literasi Nasional dan membangkitkan potensi menulis bagi para guru, sebagai  bagian dari upaya pengembangan profesi guru. Dengan mengikuti kegiatan ini para guru memperoleh Pelatihan Terpadu Penulisan dan Penerbitan Buku Ber-ISBN. Kata-kata motivasi Agung yang selalu diingat peserta pelatihan adalah, “Menulis itu gampang, tidak usah dipikir, tulis saja”

Melalui gerakan ini diharapkan pada HUT ke-73 PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2018 di Jawa Tengah dapat di launching 1000 buku hasil karya para guru. Selain itu pada HUT ke-73 PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2018 tingkat nasional, APKS PGRI Jawa Tengah juga akan mengirimkan 100 judul buku ber ISBN dalam Festival Buku yang diselenggarakan PB PGRI. Agung optimis target itu semua akan terpenuhi.

“Dimulai dari kabupaten Wonogiri, kabupaten Rembang dan disusul kab/kota yang lain kini terus bergerak menjalankan agenda APKS PGRI untuk mencapai target tersebut”, jelas Agung.  Kepala SMAN 16 Kota Semarang ini menjelaskan lebih lanjut bahwa APKS PGRI kab/kota yang belum menyelenggarakan kegiatan pelatihan, telah siap menyelenggarakan kegiatan pada akhir Agustus dan akhir September sehingga pada bulan Oktober 2018 sudah bisa masuk proses editing dan proses cetak untuk buku ber ISBN. Nara sumber kegiatan diklat berasal dari APKS PGRI kab/kota dan APKS PGRI Provinsi. Agung Purwoko tidak menampik adanya kendala dalam mewujudkan agenda besar tersebut. Beberapa diantaranya adalah; menumbuhkan minat bapak/ibu guru menulis, akses penerbitan, editor.

APKS PGRI Jawa Tengah menurut Agung telah siap memberikan solusi terhadap berbagai kendala dan persoalan yang dihadapi guru dalam penulisan dan penerbitan buku ber ISBN. “Badan penerbitan PGRI Jateng press telah siap menerbitkan buku-buku ber ISBN hasil karya guru dengan biaya yang pasti lebih ringan dibanding penerbit yang lain”, jelasnya. Bagaimana pandangan dan komentar para guru terkait program pengembangan profesi dan gerbang kalam guru? Ikuti pendapat sejumlah nara sumber berikut ini;

Tuntutan Perkembangan

Kadarisman, S.Pd. M.Pd, Guru SMK Negeri 3 Kota Tegal mengungkapkan pendapatnya, bahwa perkembangan kebijakan dalam dunia pendidikan semakin menuntut guru untuk menghasilkan suatu karya, baik itu karya ilmiah, inovasi, maupun kreativitas dalam pembelajaran. Hal ini sejalan dengan persyaratan yang harus dipenuhi seorang guru dalam pengajuan kenaikan pangkat, yang tercantum jelas dalam Permen PAN dan RB No 16 tahun 2009 tentang jabatan guru dan angka kreditnya.

Menurut sekretaris PGRI Kota Tegal yang juga guru prestasi 1 Kota Tegal 2011 ini sebagai pendidik profesional seorang guru harus mampu melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan yang meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif. Hal ini dilakukan agar proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, apalagi anak didik sekarang lebih kritis dan cerdas dalam menyikapi pembelajaran. Seorang pendidik yang tidak mau berinovasi dan berkreasi maka akan mengalami banyak hambatan dan tantangan dari peserta didik.

Gerakan menulis buku yang dilakukan PGRI Jawa Tengah merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi tuntutan guru profesional. Dengan menulis maka akan dihasilkan ide atau gagasan guru yang selama ini masih terpendam dan belum dituangkan dalam bentuk tulisan. Permasalahannya adalah sejauh mana guru mau menuangkan ide atau gagasan tersebut dalam sebuah tulisan, walaupun sebenarnya sudah dan sering dilakukan dalam proses pembelajaran.

Kadarisman menyatakan PGRI Kota Tegal sebagai wadah organisasi profesi guru sebenarnya sudah sering melaksanakan kegiatan untuk membangkitkan budaya menulis, terutama yang berkaitan dengan pemenuhan syarat kenaikan pangkat guru. Setiap pelaksanakan  HUT PGRI Kota Tegal tidak pernah absen dari kegiatan tersebut, baik dalam bentuk lomba karya ilmiah, pelatihan pembuatan karya tulis, maupun workshop penulisan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Jadi Beban Guru

Namun demikian, Kadarisman yang menjadi Penilai PAK Kota Tegal tahun 2012 sampai sekarang ini mengakui masih sebagian kecil guru yang mau melakukan hal tersebut. Menulis bagi sebagian guru adalah  menyenangkan, akan tetapi bagi sebagian yang lain adalah beban dan momok yang menakutkan. Padahal saat mengajar dari pagi sampai siang seorang guru sanggup berbicara hingga tuntas. Akan tetapi jika harus menuangkan apa yang disampaikan ke dalam bentuk tulisan amat susah.

Disnilah permasalahan yang harus ditangani bersama. Pelatihan, seminar, workshop dan lain sebagainya mungkin salah satu jalan untuk mengatasi hal tersebut. Akan tetapi perlu diingat, bagi pemula jika tanpa pembimbingan rasanya sangatlah susah. Oleh karena itu diperlukan berbagai tahapan agar guru senang menulis.

Tim Jurnal Pendidikan Widyatara Kota Tegal ini mengingatkan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk menulis adalah mambaca. Dengan membaca maka pengetahuan, wawasan, dan kemampuan seseorang akan meningkat. Semakin banyak membaca maka akan semakin banyak pula yang dapat ditulis. Budaya literasi yang digalakan pemerintah adalah peluang yang tepat bagi guru untuk lebih banyak membaca dan menulis.

Kadarisman yang juga Penilai PAK Provinsi Jateng tahun 2017 sampai sekarang ini memberikan “resep” berikutnya tentang apa yang harus dilakukan guru, yakni menulis apa yang dilakukan para guru pada saat melaksanakan proses pembelajaran. Ada istilah yang mengatakan “tulislah apa yang kamu kerjakan, dan kerjakan apa yang kamu tulis”. Dan selanjutnya adalah mengikuti ketentuan, tata cara atau kaidah penulisan sesuai dengan yang akan ditulis, misalnya artikel, tinjauan ilmiah, maupun karya lain sehingga akan menjadi karya ilmiah yang diakui dalam pengajuan angka kredit.

Edu Training Centre

Johan Wahyudi, pengurus Cabang PGRI Kalijambe Kabupaten Sragen saat diminta pendapatnya tentang kegiatan guru menulis di kabupaten Sragen, mengungkapkan kegiatan guru menulis di wilayahnya cukup bagus. Menurutnya, rekan-rekan guru cukup antusias mengikutinya. Guru SMPN 2 Kalijambe yang juga penulis banyak buku itu memberikan contoh pada tangal 13 Januari 2018, PGRI Cabang Kalijambe dibanjiri peserta saat mengadakan acara Seminar Nasional dan Bedah Buku “Mengatasi Anak Nakal Tanpa Melanggar Undang-undang” yang ia tulis. Sebanyak 350 guru hadir saat itu. Johan Wahyudi menyatakan dalam waktu dekat pihaknya akan menyelenggarakan Bimtek Guru Menulis di Kabupaten Sragen. Johan meyakini target 1000 peserta dalam kegiatan tersebut terpenuhi.

“Insya Allah, PGRI Kabupaten Sragen dan APKS PGRI Kabupaten Sragen akan mengadakan Bimtek Guru Menulis pada tanggal 24, 25, dan 27 Agustus 2018. Kami yakin, target 1000 peserta tercapai”, jelasnya. Johan Wahyudi yang juga seorang Trainer Guru Menulis ini mengungkapkan, seorang guru SD di Sumatera Selatan, Ardianto kini prestasinya melejit, dan kini berhasil meraih juara 2 Guru Berprestasi Provinsi Sumatera Selatan setelah tahun lalu mengikuti kegiatan Wisata Literasi yang diadakan Edu Training Centre, Sragen, Lembaga pendidikan yang dikelola Johan Wahyudi sendirian. Johan mengaku lembaga itu ia dirikan demi keinginannya untuk bisa berkontribusi terhadap kemajuan ibu pertiwi.

“Malam ini, Mas Ardi kirim kejutan lagi. Ia terpilih jadi peserta INOBEL dan Olimpiade LIKMAT. Dua prestasi yang teramat jauh dari ekspektasinya, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendakinya”, ungkap Johan, mantap.

Kesulitan Guru

Guru SMPN 8 Semarang yang juga seorang Trainer guru menulis, Dr. Nurzaida mengungkapkan bahwa kesulitan yang biasanya dihadapi guru adalah mendisiplinkan waktu untuk menulis. Selain itu juga banyak guru yang kesulitan meng-update bahan bacaan yang sesuai dengan materi yang akan ditulis. Bagi Nurzaida kesulitan itu tidak begitu dirasakan karena sejak SD sudah punya hobby menulis. Hobby itu diawali dengan membaca bahan bacaan apa saja yang ia temui.

?“Sampai koran bungkus makanan pun saya baca waktu itu. Saya sangat senang dan bangga tulisan saya dimuat di majalah anak-anak.” kisahnya.  Berkat ketekunannya, kini Nurzaida sudah berhasil menulis lebih dari 20 judul buku mapel bahasa Inggris, 3 judul buku fiksi, dan 2 judul buku pedoman guru. Ia mengingatkan, menulis itu dilakukan karena senang membaca. Terkait gerakan menulis yang menjadi salah satu program PGRI Jawa Tengah menurut Nurzaida harus dikawal dan difasilitasi supaya guru mempunyai budaya menulis dan kualitas tulisan yang dihasilkan benar-benar bermanfaat dan baik. (pur)