PGRI Minta Guru Dukung Skema Zonasi

Posted by Admin on Berita
PGRI Minta Guru Dukung Skema Zonasi

Semarang, Derap Guru. Sebagai organisasi guru, PGRI Jateng meminta agar para guru bisa mendukung sistem zonasi. Sistem penerimaan siswa baru dengan menggunakan zonasi menjadi sarana untuk menghilangkan paradigma sekolah favorit yang hanya untuk sekolah tertentu. Semua sekolah seharusnya menjadi sekolah favorit dengan standar mutu yang sama sehingga anak tidak harus mencari sekolah yang jauh dari tempat tinggalnya.

Untuk itu, Ketua PGRI Jateng, Widadi mengharapkan guru di Jateng mendukung skema zonasi yang dilakukan pemerintah. Salah satunya adalah siap menghadapi rotasi sebagai langkah pemerataan kualitas pendidikan.

“Zonasi ini dimunculkan untuk menghapus paradigma sekolah favorit, untuk pemerataan pendidikan,” katanya disela kegiatan halal bihalal PGRI Jateng yang diselenggarakan di Balairung Universitas PGRI Semarang, Minggu (23/06).

Ia menjelaskan, sistem yang sudah mulai diuji coba sejak tahun 2016 ini terus menjadi polemik hingga saat ini. Padahal sistem tersebut dibuat dengan tujuan yang bagus.

“Kenapa sampai saat ini menjadi polemik? Karena mengusik kenyamanan. Dulu biasa kumpul sesama anak berprestasi dan mampu, kini harus bercampur dengan yang lain,” imbuhnya.

Selain sistem zonasi yang digunakan untuk pemerataan pendidikan, dari sarana dan prasarana sekolah, sebaran guru pun harus dilakukan pemerintah. Guru yang punya kemampuan mendidik yang baik, tidak bisa berkumpul di satu sekolah sehingga perlu dilakukan rotasi dengan catatan masih dalam satu zona.

“Jangan mengedepankan ego, misalnya sudah enak disini tapi kok dipindah. Harus ada idealisme cita-cita sebagai guru ya harus siap mengajar di manapun. Guru itu kan tidak boleh memilih mengajar yang pintar saja,” tegas Widadi.

Selanjutnya, Ustadz Abdurrahman Djaelani saat memberikan tausiyah dalam acara tersebut mengingatkan agar kita selalu hormat dan patuh pada orangtua dan guru kita. Ia pun mengungkapkan pengalamanya saat masih sekolah. Pernah ada kata-kata seorang guru yang ia dengar sangat keras dan menyakitkan. Meski terasa sakit tetapi ia memaknai itu sebagai cambuk untuk mengubah dirinya yang saat itu menjadi anak yang nakal untuk berubah menjadi lebih baik.

Melalui proses yang ia jalani, ternyata apa yang dikatakan guru itu benar, kini aa menjadi seorang pendakwah dan memberi manfaat bagi banyak orang. Udjae, panggilan untuk ustadz Djaelani, juga mengingatkan agar kita tidak sekali-kali berkata kasar dan menentang ibu dan bapak kita, karena ridho Allah terletak pada ridho kedua orangtua kita. Hadir dalam acara tersebut pengurus PGRI kabupaten/kota, cabang, guru, dosen, kepala sekolah dan unsur lainya.(pur)