Harapan untuk Mas Nadiem

Posted by Admin on Artikel
Harapan untuk Mas Nadiem

PRESIDEN menggunakan panggilan “Mas” ketika memperkenalkan Mendikbud Nadiem Makarim. Memang masih begitu muda, 35 tahun, menjadi menteri pada kementerian yang cakupan tupoksinya begitu luas dan strategis. Apalagi pendidikan tinggi kembali menjadi tugas Kemdikbud setelah lima tahun ini digabung dengan Kemristek.

Para rektor pun harus takzim mendengarkan pengarahan pendekar muda ini. Tak pelak, Mas Nadiem menjadi “bintang perhatian” saat drama panggung pengenalan calon menteri sampai pelantikan, melengkapi kemonceran kesuksesan sebagai pebisnis muda kaya raya.

Widadi, SH?Apakah sukses di dunia bisnis berarti juga membawa sukses perubahan dunia pendidikan yang mampu mewujudkan sumber daya manusia (SDM) unggul untuk Indonesia maju? Tentu kita harus berangkat dari optimisme dengan memberi kesempatan kepada sang pendekar untuk segera berkiprah. Pak Menteri mampu menemukan pengungkit untuk mewujudkan pendidikan bermutu yang melahirkan SDM unggul. Dari mana dimulai proses perubahan itu? Dari kurikulumnya, guru/dosen, teknologinya, atau lebih mendasar lagi aspek filosofisnya. Saat mengumumkan kabinet, Presiden menyatakan, tugas utama Mas Nadiem sebagai Mendikbud adalah menyiapkan SDM siap kerja yang ada kesesuaian antara pendidikan dan industri. Harapan yang sudah lama bergaung (link and match). Tentu disadari benar, pendidikan bukan sekadar menyiapkan SDM untuk memenuhi kebutuhan industri, sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No 20 Tahun 2003, Pasal 1 ayat 1), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mengembangkan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan, dan sekolah sebagai salah satu pusat tempat mendidik, adalah sekadar fasilitas untuk mewujudkan proses pembelajaran agar setiap peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi yang dimilikinya. Setiap anak adalah “bintang”, apa pun kondisinya. Setiap anak punya satu keunggulan atau keunikan. Pendidikan menfasilitasi agar potensi keunggulan tersebut menjadi kompetensi nyata.

Mendidik bukan hanya membuat anak menjadi pintar dan terampil, tetapi juga harus berkarakter. Orang pintar dan terampil tanpa karakter bisa berbahaya. Menjadi robot yang digerakkan orang lain. Sebaliknya orang berkarakter luhur yang tidak kompeten (pintar dan terampil) adalah manusia baik yang lumpuh.

Kecenderungan Pragmatisme

Sudah lama dunia pendidikan merisaukan kecenderungan pragmatisme dalam pendidikan, yang hanya berfokus pada hasil (kognitif, nilai rapor/ijazah). Kecenderungan yang dipicu oleh kerangka berpikir keberadaan era industri. Manusia ditempatkan sebagai faktor produksi. Bahkan gaya pengelolaan sekolah menggunakan cara dunia industri seperti berfokus pada target dari efisiensi, bahkan profit. Menjauh dari tujuan hakiki pendidikan, yaitu menfasilitasi pertumbuhan fase anak “menjadi dewasa” (berkarakter, mandiri, berbudi luhur). Menfasilitasi pengembangan fase ego anak (oral, anal, genital) ke fase manusia altruis, inklusif, bermakna, dan bermanfaat.

Pendidikan seharusnya telah bergeser dari fase paradigma kebendaan era kapitalis ke kemanusiaan era kearifan (wisdom era). Pendidikan diharapkan mampu membangun manusia secara utuh, raga-pikir-rasa-jiwa, membangun manusia yang sehat bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat menjadi lokomotif pembangunan kebudayaan dan peradaban bangsa. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga menjadi kompetitif, dengan basis karakter kepribadian Indonesia yang pancasilais. Menjadi warga Indonesia yang patriotis sekaligus warga dunia yang peduli (kosmopolitan).

Membangun manusia yang bukan hanya memiliki kompetensi profesionalitas dan metodologisnya, tetapi juga memiliki kompetensi sosial dan kepribadian. Membangun manusia yang logis kritis kreatif praktis sekaligus etis dan estetis. Membangun manusia berketuhanan sekaligus berkemanusiaan.

Dengan mengambil menteri dari pihak eksternal pendidikan, diharapkan mampu melihat dengan prespektif yang lebih tajam dan jitu (berpikir di luar kotak). Tidak sekadar melihat pendidikan dari sisi teknis teknologis fenomenologis, tapi mampu menghujam ke akar masalah ke kedalaman kehakikian pendidikan (filosofis). Bukankah revolusi mental harus melibatkan pendidikan?

Selamat bekerja memasuki “dunia lain” yang rumit dan kompleks, rimba raya pendidikan dan kebudayaan. Namun bisa jadi lebih asyik dibanding dunia bisnis.

Kita perlu siap, Mas Nadiem adalah milenial dengan ciri sikap kerja “I can, I will just let me”. Berbeda dari sikap kerja tradisionalis yang sekadar “Get the job done” atau boomers yang “Let’s have a meeting and talk about it” atau Xers yang “I will do my part, you do yours, we will meet up later”. Dengan etik kerja “integration” (bagi kaum milenial). (40)

— Widadi, Ketua PGRI Jawa Tengah Periode 2014-2019.

Sumber : Suara Merdeka