MOPD Dengan (tanpa) Bullying? Apa Kata Mereka?

Posted by Admin on Artikel
MOPD Dengan (tanpa) Bullying? Apa Kata Mereka?

Kegiatan awal bagi sekolah (satuan pendidikan) setelah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), adalah masa orientasi  peserta didik (MOPD), yang dulu bernama MOS (masa orientasi siswa). Masa orientasi sesungguhnya bukan hanya untuk peserta didik yang baru (kelas 1 SD, VII SMP/MTs dan kelas IX SMA/K/MA.

Bagi peserta didik TK/TKLB/RA/BA dan peserta didik kelas I (satu) SD/MI/SDLB masa orientasi biasanya disi dengan kegiatan antara lain : Pengenalan sekolah/madrasah, Sosialisasi Cara belajar (belajar sambil  bermain), Pengumpulan data untuk kepentingan Tata Usaha Satuan Pendidikan, Kegiatan keagamaan, dan kegiatan kepramukaan.

Bagi peserta didik kelas II (dua) sampai dengan kelas VI (enam) SD/MI/SDLB masa orientasi diisi dengan kegiatan yang konstruktif dan edukatif sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik antara lain: penetapan pengurus kelas, pengenalan warga kelas, menciptakan kegiatan yang dinamis di kelas dengan dipandu wali kelas,  pembentukan kelompok belajar, pembenahan 7 K (Kebersihan, Keamanan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kesehatan dan Kerindangan), kegiatan keagamaan, dan lain sebagainya.

Bagi peserta didik kelas VII (tujuh) SMP/MTs/SMPLB, dan kelas X (sepuluh) SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kegiatan MOPD untuk pengenalan satuan pendidikan baru  (program, struktur, tata tertib, dan orientasi kepramukaan), penanaman konsep, pengenalan diri peserta didik dan kegiatan keagamaan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, cara belajar dan sistem  pembelajaran, kegiatan kesiswaan, PBB, pembentukan pengurus kelas, pembagian kelompok belajar yang dipandu oleh panitia dan/atau wali kelas.

MOPD yang sering mendapat perhatian masyarakat, orang tua dan peserta didik adalah MOPD untuk peserta didik baru kelas VII SMP/MTs dan MOPD kelas X SMA/SMK/MA karena sering terjadi penyimpangan dan (seolah-olah) dijadikan ajang balas dendam oleh para senior untuk melakukan bullying terhadap peserta didik baru (yuniornya).

Bagaimana pendapat para tokoh pendidikan, masyarakat, orang tua, guru, dan peserta didik (senior dan yunior) terkait MPOD? Mari kita ikuti pendapat dibawah ini;

Jangan ada bullying

Diminta pendapatnya tentang kegiatan MOPD yang sering diwarnai adanya bullying, Rektor Universitas PGRI Semarang, Dr. Muhdi, S.H, M.Hum mengungkapkan MOPD merupakan kegiatan untuk memfasilitasi peserta didik (siswa) baru agar begitu masuk sekolah dapat menyesuaikan diri pada tingkatan yang lebih tinggi. Kegiatan itu antara lain untuk mengenal lingkungan, kelas, guru, dan kegiatan ekstra kurikuler yang ada. Dengan demikian MOPD lebih ke pengenalan / informasi tentang apa yang akan dilakukan atau dihadapi pada saat proses pendidikan.

MOPD yang bertujuan baik itu kenayataannya masih banyak yang dibumbui dengan berbagai bentuk kegiatan yang kadag-kadang mengarah pada kegiatan yang dapat dikatagorikan tidak ramah terhadap anak, bahkan sering terjadi kekerasan atau bullying baik secara fisik atau psikis dengan alasan untuk menyiapkan mental. Kegiatan itu seperti penugasan-penugasan yang tidak manusiawi atau tidak rasional serta kekerasan psikis seperti membentak, memaki, mencemooh, dll. Di sekolah menengah bahkan tidak berhenti disitu tetapi dilanjutkan pada kegiatan ekstra kurikuler diluar control sekolah karena dilakukan diluar jam belajar, bahkan sampai malam hari. Sementara banyak peserta didik merasa jika tidak masuk pada kegiatan yang dimininati akan jadi peserta didik yang terkucilkan sehingga siap diperlakukan apapun oleh senior. Bahkan ada juga alumni yang juga ikut terlibat untuk memastikan kondisi itu masih terjaga.                      

Untuk menghindari adanya kekerasan atau bullying dalam kegiatan MOPD dan kegiatan ekstra kurikuler, Muhdi berharap ada panduan atau SOP yang benar-benar ditaati dan dilaksanakan sesuai SOP. Selain itu para guru dan kepala sekolah juga diharapkan memahami UU Perlindungan anak agar kegiatan yang dilakukan tidak melanggar UU.  

Character Building

Kegiatan yang dilakukan dalam MOPD selain memperkenalkan kepada peserta didik baru tentang lingkungan baru dalam kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang ada di sekolah agar dapat diikuti dengan baik oleh seluruh peserta didik, tidak kalah pentingnya dalam MOPD adalah kegiatan awal membangun karakter peserta didik atau Character building. Character building diperkenalkan kepada peserta didik baru sebelum mereka mengikuti proses pendidikan berikutnya sesuai kalender akademik sekolah. Hal itu diungkapkan oleh Sri Sulastri, S.Pd, Wakil Kepala SMK PGRI 01 Semarang di sela kegiatan MOPD di sekolahnya.

Diungkapkan oleh Sri Sulastri bahwa dalam PPDB tahun ini SMK PGRI 01 Semarang menerima 190 peserta didik baru. Selama tiga hari tanggal 9 – 11 Juli 2015 mereka mengikuti kegiatan MOPD di sekolah. Selain memperoleh bimbingan dan pengarahan dari para guru,  peserta didik baru memperoleh materi dari kepolisian, TNI, BKK dan PKK.  Dari kepolisian diberikan materi tentang tertib lalu lintas, pencegahan kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba. Dari TNI diberikan materi tentang nasionalisme, ketahanan nasional dan bela Negara. Sedangkan dari BKK dan PKK materi yang disampaikan terkait  upaya menjaga kesehatan dan perkembangan remaja, kekerasan berbasis gender, dan penanggulangan HIV/AIDS.

Sri Sulastri berpendapat, bullying memiliki dampak positif dan negative tergantung pada jenis, tujuan dan kondisi masing-masing. Jika terpaksa, bullying  hanya dilakukan sebagai alternative terakhir kepada anak-anak yang kenakalannya luar biasa dan tidak bisa dihentikan dengan proses pendidikan yang biasa. Itu pun harus dilakukan dengan banyak pertimbangan dan disesuaikan dengan kondisi fisik serta psikis anak agar dampaknya positif bukan negative. Jika dilakukan dengan benar/wajar, bertujuan mendidik, tidak ada kebencian dan dendam, serta tidak mencederai dan dikomunikasikan dengan orang tua siswa maka hasilnya positif tetapi jika berlebihan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan, bullying cenderung berdampak negative. Meski demikian, dalam MOPD di SMK PGRI 01 Semarang, Sri Sulastri memastikan tidak ada bullying atau kekerasan baik fisik maupun psikis.

Widadi, S.H, Ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah saat diminta pendapatnya tentang bullying yang sering terjadi dalam kegiatan MOPD menungkapkan, bahwa bullying merupakan kekerasan fisik dan psikis yang seharusnya kita hindari tetapi faktanya banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat. Karena itu anak-anak harus dilindungi dari berbagai tindak kekerasan baik di rumah, di sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. “kewajiban orang tua, guru dan masyarakat untuk melindungi anak-anak”, tegasnya. Meski demikian orang tua sebaiknya juga tidak over protective terhadap anak. Berikan pemahaman kepada anak-anak bahwa dalam lingkungan kehidupan sering kita temukan berbagai perilaku masyarakat termasuk adanya bullying atau kekerasan. Dengan pemahaman yang baik, anak-anak akan lebih siap menghadapinya. Bekal itu akan lebih baik jika anak-anak dipersiapkan (dalam waktu tertentu) hidup bersama dalam lingkungan  masyarakat (live in).

Pendapat senada diungkapkan Ketua YPLP PT PGRI Semarang, Dr. Sudharto, M.A. Mantan anggota DPD RI (2004-2009) ini mengungkapkan, anak-anak harus dilindungi dan tidak boleh mengalami kekerasan baik fisik maupun psikis. Menurutnya bullying tidak ada manfaatnya bagi pelaku maupun korban. Karena itu mata rantai bullying harus diputus, tidak boleh lagi ada dalam dunia pendidikan. “Kita sudah terlalu jenuh melihat berbagai perilaku destructive dan kekerasan dalam masyarakat”, tegasnya. Menurut Sudharto, maraknya perilaku destructive dan tindak kekerasan itu menunjukkan bahwa kita gagal melakukan pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

MOPD sebagai kegiatan awal peserta didik baru, menurut Sudharto sebaiknya diisi dengan pengenalan sistem persekolahan yang dimasuki, baik yang berdimensi fisik maupun non fisik. Ketua DKGI Jawa Tengah yang memperoleh gelar Master of Art di Amerika Serikat ini mengungkapkan, bahwa kegiatan orientasi peserta didik baru di AS berlangsung sekitar satu minggu.  Selama + satu minggu itu anak-anak dibimbing untuk mengenal lingkungan sekolah dan bagaimana memanfaatkan sarana prasarana yang ada, diperkenalkan struktur organisasi sekolah, guru dan karyawan, serta informasi tentang proses pendidikan yang harus diikuti melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler, peraturan dan tata tertib yang harus diketahui dan dipatuhi peserta didik sebelum mengikuti proses pendidikan berikutnya. Meski hal itu juga dilakukan di sekolah-sekolah kita tetapi pelaksanaanya sering tidak maksimal dan banyak pihak turut mengatur pendidikan kita.

Untuk memperbaiki pendidikan kita, khususnya tentang pendidikan karakter maka MOPD sebaiknya juga menekankan pentingnya peserta didik memahami, menjiwai dan melaksanakan nilai-nilai karakter (12 living value). Untuk memastikan tidak adanya kekerasan atau bullying dalam MOPD, guru mesti terlibat penuh dalam kegiatan itu.  Para guru juga harus memahami UU Perlindungan Anak agar kegiatan yang dilakukan tidak dipersoalkan oleh orang tua dan masyarakat karena dinilai melanggar UU. Karena itu guru harus punya cara untuk mendidik dan mendisiplinkan peserta didik agar memiliki jiwa yang tangguh dan tahan uji.

Sadar Djunedi, Guru SMKN 7 Semarang saat ditemui di sela-sela kegiatan MOPD menyatakan di sekolah itu tidak ada bullying dan kekerasan. “Untuk membuat suasana lebih nyaman MOPD dilakukan di dalam ruangan (in door)”, jelasnya. Untuk memastikan anak-anak memegang teguh disiplin dan nilai-nilai karakter yang harus dilaksanakan, jika ada peserta didik yang terlibat perkelahian akan dikeluarkan. Sadar menjelaskan, MOPD selain diisi materi oleh para guru dan kepala sekolah juga menghadirkan petugas kepolisian, TNI, BKK dan PKK. Materi yang disampaikan terkait tertibmenghadirkan petugas kepolisian, TNI, BKK dan PKK. Materi yang disampaikan polisi antara lain terkait tertib lalu lintas, pencegahan dan penanggulangan kenakalan remaja, penyalah gunaan narkoba. Dari TNI tentang nasionalisme dan bela negara. BKK dan PKK tentang upaya menjaga kesehatan dan perkembangan remaja, pemahaman gender, dan penanggulangan HIV/AIDS. Selain itu dihadirkan juga dari Bank Bukopin untuk memfasilitasi anak-anak agar menabung. Sedangkan asuransi dihadirkan untuk mengcover kebutuhan asuransi bagi seluruh siswa. (d4)