Pendidikan Yang Mencerahkan

Posted by Admin on Artikel
Pendidikan Yang Mencerahkan

Awal Agustus 2014, Ignatius Ryan Tumiwa (48) meminta Mahkamah Konstitusi menguji materi pasal 344 KUHP terhadap UUD 1945. Ia meminta agar dilegalkan untuk melakukan bunuh diri, mengembalikan mandate kehidupannya.  Dalam kesaksiannya Ryan mengalami depresi karena lebih dari setahun menganggur. Ia putus asa, padahal  Ryan mempunyai ijazah S2 Ilmu Administrasi Negara FISIP UI dengan IPK 3.32. ia lulus tahun 1998 dengan IPK yang cukup tinggi untuk saat itu. Konon ia dikenal pintar, bahkan pernah menjadi dosen.

Bulan April ini diwarnai ritual pendidikan secara nasional, UN. Kehebohan UN tahun ini tensinya menurun konon karena tidak lagi menjadi syarat kelulusan. Kelulusan ditentukan sekolah. Stres nasional UN dulu antara lain banyak ditandai dengan doa-doa massal, isyu kebocoran soal, dll. Semangat semata-mata mengejar nilai UN yang tinggi, menjadi lebih mereda. Mengejar nilai tinggi untuk raport dan ijazah telah menjadi fokus peserta didik, bahkan orang tua. Dampak sosial ekonomisnya, tumbuh subur “industri bimbel”.  Sementara untuk perguruan tinggi, bermunculan industri penyusunan skripsi, tesis dan sejenisnya. Implikasi jangka panjang fokus pada nilai adalah pada pertanyaan, benarkah kehidupan sebenarnya para lulusan tergantung nilai ijazah? Kalau hal itu benar, betapa mudahnya menyongsong masa depan yang penuh ketidak pastian, cukup dengan nilai tinggi. Dengan demikian anak pintar sudah pasti bermasa depan cerah.

Pada saatnya para pengejar nilai bisa kecewa. Sekolah hanya berkontribusi 30 persen untuk “wajah” anak di masa depan. 70 persen  kontribusi keluarga, terutama orang tua, dan masyarakat. Seorang anak yang mendapat nilai 10 di sekolah, sebenarnya ia hanya mempunyai nilai 3,3. Berbeda dengan anak yang di rumah dilatih intensif orang tuanya seperti berjualan, atau ketrampilan olah raga, seni, dll. Mungkin orang tua memberi nilai 7. Dan masyarakat, di mana anak berkegiatan secara intens, member nilai 8. Maka mesti si anak di sekolah hanya mendapat nilai 6, hakekatnya ia mempunyai nilai (6 + 7 + 8) : 3 = 7. Pengalaman menunjukkan manusia-manusia sukses di tempat kerja dan masyarakat adalah mereka yang mendapat pendidikan secara berimbang dari tiga ranah pendidikan tersebut (sekolah, keluarga, masyarakat). Apalagi jika sekolah hanya berfokus pada kurikulum akademik  semata, tidak menjangkau banyak hal untuk ketrampilan umum untuk hidup (general life skill) atau soft skill dan tidak menyentuh pembentukan perilaku prima sesuai kebutuhan zaman.

Kita ingat Thomas Alpha Edison yang gagal di sekolah tapi digembleng ibundanya, Rudi Hartono, juara 8 kali All England yang digembleng ayahnya, Theodore Rosevelt yang saat kecilnya sakit-sakitan digembleng ayahnya disiplin penuh. Mereka menjadi manusia sukses kelas dunia. Dan kita banyak menyaksikan, mereka yang lulus sekolah dengan nilai tinggi ternyata  menjadi orang-orang biasa, bahkan menjadi bawahan  atau dipimpin orang yang dulu punya nilai biasa-biasa saja. Juga seperti Ryan di atas, banyak lulusan sarjana yang sulit memperoleh pekerjaan, apalagi menciptakan pekerjaan bagi orang banyak. Sementara banyak orang-orang yang saat sekolah biasa-biasa saja mampu mendirikan usaha dan merekrut orang-orang yang jauh lebih pandai.

Dibutuhkan pendidikan yang mencerahkan, lewat sebuah proses pendidikan yang diawaki guru yang tidak hanya mampu mengatakan (talking), juga menjelaskan (explain), memberi contoh (demonstrate), dan menginspirasi (inspiring). Guru yang menginspirasi bukanlah guru yang hanya berfokus pada bahan atau materi ajar, berpusat pada dirinya (guru), namun guru yang mampu berfokus pada peserta didik. Guru yang menginspirasi bukan hanya mengajar yaitu mentransfer ilmu pengetahuan atau menanamkan dogma. Guru transformatif adalah guru yang membangun nilai dan spirit kebaikan, produktifitas, berkarya untuk diri dan masyarakatnya. Guru yang membangun mindset positif.

Guru inspiratif bukan hanya membangun karakter satu atau dua peserta didik, ia membangun kebaikan massal, menebar rahmat bagi semesta alam. Pendidikan yang mencerahkan adalah pendidikan yang mengeluarkan manusia dari kegelapan pikir – kebodohan – keterbelakangan – kemiskinan, menuju dunia terang yang cerdas – berkarakter – produktif - berkarya untuk diri dan bangsa. Guru yang melaksanakan gerakan revolusi mental.

Guru inspiratif adalah guru yang dikaruniai hikmah (menguasai ilmu secara hakiki dan ma’rifat, bukan sekedar pengetahuan) dan mempunyai sikap hidup (pola pikir) syukur kepada Allah (S. Luqman : 6). Guru yang menjadi guru karena panggilan hati (vocation). Produktivitas kinerjanya melampaui standar (excellent) karena guru yang bersangkutan disamping disemangati panggilan hati, juga menghadirkan Tuhan di tempat kerja. Mendidik adalah sajadah panjang berhikmat kepada Tuhan dan berkhidmat kepada ciptaan mulianya, yaitu peserta didik.

Guru mencerahkan bekerja dengan kecintaan, kasih sayang. Jauh berbeda dengan guru yang bekerja sekedar karena bekerja untuk mencari nafkah (okupasi). Atau bahkan bukan sekedar membangun karier (profesi). Guru mencerahkan bekerja karena panggilan hati (vakasi). Kebaikan kepribadiannya mampu mengubah dan membangun karakter peserta didik.

Guru inspiratif bisa ada di rumah (orang tua), sekolah, dan masyarakat, tiga ranah dimana anak-anak membangun diri menjadi insan cerdas, mandiri, berbudi luhur, beriman dan bertaqwa.

Dirgahayu Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2015.

 

Widadi

Ketua Pengurus PGRI Provinsi Jawa Tengah