Pertaruhan Bonus Demografi dengan Pendidikan sebagai Faktor Kunci

Posted by Admin on Slider
Pertaruhan Bonus Demografi dengan Pendidikan sebagai Faktor Kunci

Dr H Muhdi SH MHum Ketua PGRI Jawa Tengah diterima Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta
(#1 s.d. #10)

#1

"Tahun Pertaruhan Pendidikan Indonesia"

Semarang-Infokom PGRI Jateng. Ketua Pengurus Provinsi PGRI Jawa Tengah Dr Muhdi SH MHum Menilai, tahun 2019 dan 2020 adalah tahun pertaruhan bagi Bangsa Indonesia sekaligus pertaruhan pendidikan di negeri ini. Dr Muhdi menuturkan, setelah pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden, anggota DPR RI dan DPD RI, serta DPRD Provinsi dan Kab/Kota secara serentak, hasilnya juga menjadi pertaruhan bagi pendidikan Indonesia ke depan. 

Menurut Muhdi, tahun 2020 Indonesia mulai memasuki bonus demografi. Pertanyaannya, apakah bonus demografi itu akan mengantarkannya masuk menjadi negara maju, ke- 7 dunia pada 2030 dan ke-5 dunia pada 2045, atau akan menjadi petaka. 'Kunci dari pertanyaan itu terletak pada pendidikan', jelasnya.

Dikatakan, pertaruhan bonus demografi dengan pendidikan sebagai faktor kunci disadari betul oleh Jokowi-Ma’ruf yang terpilih dan dilantik pada 20 Oktober 2019 sebagai Presiden dan Wakil Presiden, dengan menempatkan prioritas pada ”Pembangunan SDM Unggul dan pendidikan sebagai ujung tombaknya". Untuk diketahui, Muhdi menambahkan, bidang pendidikan Indonesia tidak saja sangat besar tetapi juga sangat rumit.

Dijelaskan, besar karena memiliki sekitar 50 juta peserta didik (terbesar ke-4 dunia) dan 300 ribu sekolah. Rumit karena peserta didik tersebar di seluruh pelosok Tanah Air yang sangat luas, dengan kesenjangan hampir di semua aspek, disamping faktorfaktor lain.

Maka, Muhdi melanjutkan, Presiden menghendaki reformasi besar-besaran di bidang pendidikan dan Nadiem Makarim ditunjuk untuk memimpinnya sebagai Mendikbud. "Sosok Nadiem Makarim yang bukan ahli pendidikan, tidak memiliki pengalaman mengelola pendidikan, masih sangat muda, juga menjadi sebuah pertaruhan bagi pendidikan Indonesia" jelas Muhdi.

Menurutnya, potret pendidikan Indonesia yang belum menggembirakan bisa dilihat dari hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diterbitkan 3 Desember 2019. Muhdi menilai, skor Indonesia tergolong rendah karena berada pada peringkat ke-74 dari 79 negara atau urutan ke-6 dari bawah. Posisi ini menurun dari pemeringkatan sebelumnya pada 2015 yang berada pada peringkat 64 dari 72 negara atau urutan ke-8 dari bawah.

Sekalipun hal tersebut bukan satu-satunya ukuran, Muhdi melanjutkan, tetapi survei tersebut dapat menggambarkan posisi pendidikan Indonesia dibandingkan negara-negara lain. Padahal solusi jangka panjang bagi sebuah negara apalagi Indonesia yang memasuki bonus demografi adalah pada generasi muda yang unggul dimana pendidikan adalah sekali lagi kuncinya.

Maka, Muhdi mengungkapkan, pada saat Mendikbud Nadiem Makarim melakukan gebrakan pada reformasi pendidikan dengan memulai mengeluarkan kebijakan pendidikan, layak kita tunggu eksekusinya atau bagaimana implementasinya, sehingga mampu mencapai hasil sebagaimana visi Presiden Jokowi khususnya dan tujuan pendidikan pada umumnya, yang selanjutnya dapat mengantarkan Bangsa Indonesia sebagai negara maju yang sejahtera, adil, dan makmur.

Muhdi menilai, pidato Mendikbud Nadiem Makarim dalam Hari Guru Nasional 2019 dan pernyataan- pernyataan yang disampaikan dalam berbagai kesempatan, termasuk pernyataan bahwa selama 20 tahun pola pendidikan Indonesia belum banyak berubah, menggambarkan evaluasi pendidikan yang selama ini telah berlangsung.

Oleh karena itulah, Muhdi menyatakan, mengatasi masalah pendidikan Indonesia yang begitu besar, rumit, apalagi sebagaimana dikatakan Nadiem bahwa selama 20 tahun pola pendidikan Indonesia belum banyak berubah, maka pasti banyak sekali yang harus dilakukan.