Guru Didorong Betul Oleh Allah dan Ditempatkan di Tempat Paling Tinggi

Posted by Admin on Artikel
Guru Didorong Betul Oleh Allah dan Ditempatkan di Tempat Paling Tinggi

Foto :  Gus Yasin pada Konferensi Kerja Provinsi PGRI Pertama Masa Bakti XXII

Semarang, Infokom PGRI Jateng. Guru adalah saka guru, orang yang bisa mencerdaskan bangsa sehingga tidak salah kalau sekarang kita punya motto SDM Unggul Indonesia Maju. Demikian Wagub Jateng, H. Taj Yasin Maemun saat membuka Konferensi Kerja Provinsi PGRI Jawa Tengah tahun pertama MB XXII di Lt. 6 Kampus UPGRIS (28/2).

 "Terima kasih hadiah bajunya, dan alhamdulilah tidak kekecilan," ujar Wagub yang berpeci dan mengenakan batik PGRI disambut tepuk tangan hadirin. "Guru adalah pengajar dan pendidik yang menyampaikan ilmu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Itu pasti. Tidak ada yang takut kepada Tuhan kecuali ulama. Dan ulama itu adalah guru, " lanjutnya. 

Gus Yasin, demikian sapaan akrabnya, mengatakan, orang terhebat di antara mahlukNya, yang paling sempurna, yaitu Nabi Muhammad. Melalui kisahnya tentang Nabi Muhammmad ketika diminta memberikan ilmu kepada sahabat beliau, Gus Yasin menegaskan,"Guru didorong betul oleh Allah dan ditempatkan di tempat paling tinggi."

 Maka, lanjutnya, sudah sewajarnya apabila ada permasalahan kita harus membantu guru-guru kita. Merespons salah satu poin pidato yang disampaikan Ketua Pengurus Provinsi PGRI Jateng, Dr. Muhdi, S.H., M. Hum, ihwal dunia industri yang diminta untuk memberikan gaji sesuai UMR, Gus Yasin mengucap Alhamdulilah bahwa yang di bawah naungan pemerintah provinsi Jateng sudah dilaksanakan. "Akan tetapi memang belum diikuti oleh Kabupaten Kota," sambungnya disambut tawa dan tepuk tangan hadirin. 

"Yang perlu kita dorong, seperti yang disampaikan Ketum PB, adalah untuk menjadi pionir, menjadi percontohan bagi 34 provinsi beserta kabupaten kotanya  yang ada di Indonesia untuk ikut memperhatikan guru," ujar mantan guru ini. "Kita gembar-gembor tentang UMR, tentang penggajian, sementara yang mendidik kita belum terperhatikan. Maka kita berharap ini bisa diikuti oleh kabupaten kota," tandasnya. 

Gus Yasin kembali mengungkapkan, guru-guru saat ini barangkali masih disibukkan oleh IQ, padahal EQ dan ESQ juga harus diajarkan. Menurutnya, kalau seseorang hanya memiliki jiwa kepemimpinan, hal itu masih kurang. "Harus ada jiwa keguruan," tandasnya. 

Banyak orang-orang yang memiliki ahlak mulia, memiliki jiwa keguruan. Ia mencontohkan Ibnu Malik, penulis nahu ( tata bahasa Arab ). Ia bukan orang Arab, namun selalu mendorong orang Arab untuk belajar bahasa Arab. Tiap hari ia menempuh 1,5 km, dari pasar Umawi menuju masjid Umawi. Di masjid ia membaca bukunya sampai katam beberapa kali tanpa pernah mendapat satu murid pun. Setelah wafat, bukunya dibaca para ulama, dan sampai saat ini menjadi rujukan.

"Seorang guru harus iklas. Dan yang dikerjakan Ibnu Malik adalah teladan keiklasan," ujar Wagub. 

Selain Ibnu Malik, Gus Yassin juga meneladankan Imam Syafii, pendiri mazhab Syafii yang sangat sabar dalam mengajar. Sebelum jadi wagub,  Gus Yasin  juga seorang guru. Yang mengangkat adalah kakaknya. Namun apa kata kakaknya?

"Saya mengangkat kamu bukan jadi guru, tapi seorang yang sabar." 

"Di era industri 4.0 kita diuji kesabarannya. Kita dituntut betul untuk memberikan pelajaran kesabaran. Dengan adanya PGRI, saya yakin panjenengan sedaya bisa melakukan itu," ujarnya. "Banyak orang hebat, namun karena tidak didukung oleh ESQ nya, maka dimusuhi oleh Allah. Jangan sampai kepintaran membikin kesombongan," tandasnya. Sebelum menutup pidatonya, Gus Yasin mengatakan," Saya sangat senang di tengah bapak ibu semua. Ke depan kami akan sering mengajak diskusi untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Saya ingin tidak hanya satu dua sekolah yang favorit, namun semuanya bisa jadi favorit. Saya ingin mengajak bapak ibu menjadi guru-guru yang berintegritas.

" Menurutnya, banyak sekolah yang akreditasinya tidak sesuai. "Kalau akreditasi itu benar-benar dilakukan dengan baik maka kita tahu benar kebutuhan masing-masing sekolah.  Kalau itu sudah diakui, saya yakin, provinsi Jateng yang memiliki metode atau pelajaran anti korupsi, pengajar maupun Tu benar-benar berani mengakui keberadaan sekolahnya," ujarnya. "Kita akan melanjutkan diskusi suatu saat nanti. Kita ingin menerapkan pendidikan di Jaten lebih baik," tutupnya.