MOS Edukatif ? Ok. MOS Menakutkan? No

Posted by Admin on Artikel
MOS Edukatif ? Ok. MOS Menakutkan? No

Usai melaksanakan hajat tahunan berupa Pendaftaran dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), untuk mengenalkan para peserta didik (siswa) baru pada lingkungan pendidikan yang baru, sekolah pada umumnya melaksanakan kegiatan masa orientasi (MOS). Pada masa lalu, selain untuk mengenalkan pada lingkungan baru, kegiatan MOS sering dijadikan ajang balas dendam dan kekerasan oleh para senior.

 

Penyimpangan lain dari MOS, bahkan juga ditengarai untuk menanamkan kebencian dan rasa permusuhan pada sekolah lain oleh para senior kepada juniornya. Hal ini yang kemudian menjadi landasan para pelajar ikut dalam tawuran antar pelajar dari sekolah lain.

 

Harus Berubah

Kini, jaman sudah berubah, kegiatan MOS juga harus berubah. Bukan lagi untuk ajang balas dendam dan tindak kekerasan, apalagi menghasut dan menanamkan rasa permusuhan dengan pelajar sekolah lain.

Keharusan merubah pola pelaksanaan MOS diungkapkan juga oleh pengamat pendidikan Darmaningtyas beberapa waktu lalu. Menurutnya, MOS tidak perlu sampai dihapuskan, tetapi penerapannya saja yang sedikit diubah. Ia juga mengungkapkan bahwa sebaiknya yang memberikan materi langsung kepada siswa baru dalam MOS adalah guru, bukan siswa senior.

"Kalaupun ada senior yang dilibatkan ya senior yang punya track record  baik di sekolah, pelajar yang perilakunya bisa dicontoh", katanya.

Character Building

Kegiatan positif yang harus dibangun dan diciptakan dalam MOS selain memperkenalkan semua kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang ada di sekolah agar dapat diikuti oleh seluruh siswa dengan baik, tidak kalah pentingnya adalah membangun karakter siswa. Character building harus diperkenalkan kepada peserta didik baru sebelum mereka mengikuti proses pendidikan berikutnya yang harus diikuti dan dijalani secara rutin sesuai kalender akademik sekolah.

 

Character Building harus diperkenalkan kepada para peserta didik baru agar mereka mengetahui karakter siswa seperti apa yang hendak dibangun/diciptakan oleh para guru melalui proses pendidikan berikutnya. Dengan demikian para siswa tidak lagi menjadi obyek tetapi subyek dalam proses pendidikan. Guru dan siswa bersinergi mewujudkan tujuan yang hendak dicapai bersama. Karena itu bimbingan dan pengarahan dengan pendekatan yang lembut dan kasih sayang akan lebih efektif dari pada pola kekerasan yang sering menjadi benih sakit hati dan melahirkan sifat dendam para siswa.

 

Pendidikan dengan pendekatan kasih sayang sebagaimana orang tua terhadap anak-anaknya yang dilandasi rasa tanggung jawab terhadap tujuan pendidikan yang hendak dicapai bersama akan menghasilkan suasana sekolah yang nyaman, damai, dan menyenangkan. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan akan memudakan guru dalam menanamkan benih-benih kejujuran dan kedisiplinan, rasa tanggung jawab dan taat aturan, mandiri, demokratis, kerja sama, peduli lingkungan, kreatif dan suka bekerja keras serta karakter terpuji yang lain. (d4)