Dr. ">

Pengelolaan Satuan Pendidikan di Era New Normal

Posted by Admin on Slider
Pengelolaan Satuan Pendidikan di Era New Normal

Dari Seminar "Pengelolaan Satuan Pendidikan di Era New Normal" PGRI Kota Magelang.

Dr. Muhdi, S.H, M.Hum:

Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21

Magelang, Infokom PGRI Jateng.

Memasuki Abad 21, hanya bisa dihadapi oleh SDM yang unggul, yaitu SDM yang kompeten dan berkarakter. Dan itu hanya bisa diwujudkan oleh pendidikan yang unggul yang juga dihasilkan oleh guru yang unggul. Untuk itu maka guru harus kapabel dan Sejahtera. Demikian diungkapkan Ketua PGRI Jateng, Dr. Muhdi, S.H, M.Hum saat berbicara dalam Seminar “Pengelolaan Satuan Pendidikan di Era New Normal” di Gedung Perpustakaan Kyai Sepanjang, Kota Magelang, Senin (16/11).

Dalam seminar yang dihadiri para Kepala TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA se Kota Magelang serta beberapa perwakilan siswa itu, Dr. Muhdi mengungkapkan adanya bonus demografi yang dimiliki bangsa kita untuk menghadapi era digital atau era revolusi industri 4.0 abad-21, yang ditandai dengan digitalisasi seluruh aspek kehidupan.

Untuk itu, Dr Muhdi melanjutkan, dibutuhkan generasi yang unggul, yakni generasi yang kompeten dan berkarakter.

“Istilah mas Menteri, generasi unggul yang kompeten dan berkarakter itu dihasilkan oleh pendidikan yang unggul yang dapat menghasilkan Profil Pelajar Pancasila”, jelas Dr Muhdi.

Dijelaskan, profil pelajar panca sila itu ditandai dengan 6 karakter, yaitu ; berahlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis, dan mandiri.

Menurut Dr Muhdi, bonus demografi yang dimiliki bangsa Indoneisa akan menjadi berkah jika dikelola dengan baik melalui pendidikan yang berkualitas oleh guru-guru yang berkualitas.

“Jadi generasi yang unggul itu hanya bisa dihasilkan oleh pendidikan yang unggul. Pelajar berkarakter pancasila juga dihasilkan oleh guru berkarakter pancasila”, imbuh Dr Muhdi.

Terkait dengan pendidikan yang unggul, Dr Muhdi yang juga Rektor Universitas PGRI Semarang itu mengungkapkan adanya Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21 yang mesti dipahami para guru. Para guru dituntut mampu melaksanakan model pembelajaran sesuai perkembangan bidang informasi, komputasi, otomasi, dan komunikasi.

Bidang-bidang tersebut memiliki karakteristik yang membutuhkan penyesuaian dalam model pembelajaran oleh para guru. Misalnya, dalam bidang Informasi yang bisa tersedia dimana saja dan kapan saja, maka model pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu.

“Guru tidak boleh marah ketika ada siswa sering menyampaikan pertanyaan kritis”, jelasnya.

Terkait pembelajaran di masa pandemi covid-19, Dr. Muhdi memperkirakan masa pandemi covid 19 akan lama, dan tingkat kerawanananya bisa turun naik. Untuk itu menurutnya ada 3 alternatif yang bisa dipilih. Pertama, model tatap muka, hasilnya dipastikan lebih baik tetapi risiko tinggi. Kedua, tatap muka dan PJJ(blended), hasilnya cukup baik, dan risiko bisa diminimalisir. Ketiga, PJJ, hasilnya kurang baik (bisa tidak ada) tetapi risiko rendah.

Dr Muhdi juga mengungkapkan sikap kritisnya ketika Mendikbud mengapresiasi “guru kunjung” yang mendatangi rumah siswa untuk melakukan pembelajaran di masa pandemi covid-19. Menurut Dr. Muhdi, siswa yang berkerumun bersama teman-temanya di satu rumah rentan untuk pennyebaran covid-19. Oleh karena itu, menurut Dr Muhdi pembelajaran dengan tatap muka dan PJJ (blended) dengan memenuhi syarat-syarat tertentu sesuai protokol kesehatan merupakan solusi terbaik. Dr Muhdi juga mengungkapkan bahwa zonasi sebaiknya ditentukan bukan berdasar kaupaten/kota tetapi kecamatan dan kalau perlu desa sehingga lebih fleksibel. Sekolah atau pendidikan mestinya bisa menentukan zona sendiri.

Hal ini juga sekaligus menjawab pertanyaan peserta, Parjoko dan Arif tentang bagaimana penerapan fleksibilitas pembelajaran tatap muka dan PJJ serta bagaimana sekolah bisa mewujudkan PJJ yang berintegritas. Narasumber lain dalam seminar tersebut adalah Dr. Nikmah Nurbaity, S.Pd, M.Pd yang juga mengungkapkan tentang pentingnya mewujudkan PJJ berintegritas.

Sebelumnya, Ketua PGRI Kota Magelang, Nurwiyono mengungkapkan bahwa seminar tersebut diselenggarakan dalam rangka HUT PGRI ke-75, HUT Korpri ke-49 dan Hari Guru Nasional tahun 2020. Berbagai kegiatan yang dilakukan antara lain; pemasangan bendera dan spanduk, pemutaran Video mengajar best practice, seminar, dan Bakti Sosial Donor darah.

Hadir dan membuka acara seminar tersebut, Kadinas Pendidikan Kota Magelang, Agus Sujito. Agus Sujito mengungkapkan bahwa perkembangan covid-19 saat ini mengalami peningkatan dan pembelajaran daring masih tetap belangsung hingga akhir tahun ini. Ia mengakui ada kejenuhan para siswa, karena itu Agus meminta para guru bisa menciptakan kreafitas pembelajaran daring yang menarik untuk menggugah semangat belajar siswa.

 

Agus juga mengungkapkan banyaknya guru berhenti naik pangkat karena faktor menulis. Ia juga mengungkapkan bahwa 49 orang guru yang ikuti seleksi calon Kepala sekolah yang memenuhi syarat hanya 7 orang.

Terkait kesejahteraan guru menurut Agus, di kota Magelang tidak ada masalah, "guru honorer pun semuanya sudah mendapat penghasilan sesuai UMK. Tunjangan Sertifikasi guru tidak pernah terlambat. Kota Magelang selalu yang paling awal untuk membayar TPG", ujar Agus.