Kawal UKG 09 s/d 27 November 2015

Posted by Admin on Berita
Kawal UKG 09 s/d 27 November 2015

Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud telah mengeluarkan surat edaran Nomor 2825/B/PR/2015 tertanggal 14 Agustus 2015 tentang Pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 yang ditujukan kepada seluruh kepala dinas pendidikan provinsi dan kepala dinas pendidikan kabupaten/kota. Disebutkan, dalam rangka memenuhi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu rata-rata kompetensi guru tahun 2019 yang akan datang mencapai angka 8.00 (delapan), maka Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud akan melaksanakan Uji Kompetensi Guru (UKG) pada tahun anggaran 2015 ini terhadap 3.015.315 orang guru diseluruh Indonesia pada pertengahan bulan Nopember 2015. Uji Kompetensi Guru (UKG) akan dilaksanakan secara online bagi sekolah kabupaten/kota yang sudah siap dan secara off line bagi kabupaten/kota yang belum siap.

Diinformasikan bahwa pada tahun 2012 telah dilaksanakan UKG secara online dan offline yang hasilnya nilai kompetensi rata-rata guru dan kepala sekolah secara nasional baru mencapai angka 4,7. Oleh karena itu Dirjen GTK, menyampaikan permohonan kepada kepala dinas pendidikan provinsi dan  kabupaten/kota untuk memotivasi para guru dan kepala sekolah guna meningkatkan profesinya.

Amal Hamzah, guru SMAN 1 Pati berpendapat, UKG yang pernah dilaksanakan menurutnya  belum dilakukan secara terencana dan terukur, sehingga hasilnya belum bisa memenuhi harapan. UKG seharusnya dilaksanakan setelah ada pelatihan, kalau siswa mau diuji perlu ada proses pembelajaran. “Kalau untuk pemetaan mestinya hasil UKG tahun 2012 mestinya juga ditindak lanjuti untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan guru” katanya. Karena itu menurut Amal, PGRI harus selalu berada di garda terdepan dalam memperjuangkan nasib guru. PGRI sebagai organisasi profesi menurut Amal harus menyelenggarakan kegiatan guna mewujudkan guru yang profesional dan berkualitas.

Adanya keluhan masyarakat, bahwa guru yang sudah meningkat kesejahteraannya tetapi masih belum ada peningkatan kualitas, menurut Amal perlu adanya proses dan komitmen.  “Peningkatan kualitas guru memerlukan proses, dan perlu ada komitmen dari berbagai pihak”, kata Amal. Ia meyakini bahwa kualitas guru akan meningkat seiring dengan peningkatan kualifikasi dan pengembangan keprofesian yang dilakukan oleh lembaga terkait, pemerintah dan PGRI.

Jaringan Lemot

Sri Herlina, Guru SMP di Kabupaten Magelang mengaku prihatin dengan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2012 yang banyak diungkap di berbagai media selama ini. Dari 600.000 guru yang diuji, hanya 25 % yang memperoleh nilai sesuai atau 70 ke atas. Hasil tersebut menurut Sri Herlina tergolong cukup buruk dan mencengangkan, terlebih yang tidak lulus UKG bukan hanya guru, namun juga ada sejumlah kepala sekokah. Penyebabnya tidak semua guru mengerti IT, selain itu ada jaringan internet yang lemot (loading-nya lama) sehingga menyebabkan banyak guru tidak fokus dalam mengerjakan soal. UKG tahun 2015 diharapkan hasilnya lebih baik karena saat ini lebih banyak guru yang telah mengenal IT dan sehari-hari menggunakan komputer/laptop.

Jangan untuk Olok-olok guru

Rencana pemerintah menyelenggarakan UKG tahun 2015 untuk semua guru menurut Sri Herlina  setuju saja, tetapi perlu digaris bawahi agar hasilnya jangan dijadikan olok-olok bahwa guru tidak layak mengajar. UKG seharusnya dilakukan semata untuk pemetaan dan dari pemetaan itu guru diberikan diklat untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang diketahui dari hasil pemetaan melalui UKG. Jika ada guru-guru yang gagal memenuhi standar yang diharapkan, Kemdikbud sebaiknya menggandeng LPMP, Perguruan Tinggi (LPTK) atau lembaga pelatihan guru sejenis untuk memberikan pembinaan.

UKG Online

Terkait pelaksanaan UKG Online, Herlina berpendapat hal itu memiliki beberapa keuntungan; 1) guru yang lulus makin percaya diri, bahwa dirinya kompeten; 2) sebagai sarana untuk memperoleh masukan bagi pemerintah terhadap penguasaan IT para guru; 3) guru yang tidak lulus dapat berintrospeksi, bahwa dirinya belum kompeten. Selain itu ada juga kelemahan UKG Online, yakni; 1) tidak semua guru mengerti IT dan/atau komputer; 2) banyak daerah yang belum terakses komputer.

Kompetensi Guru

Mantan ketua PGRI Jateng, Dr. H. Sudharto, M.A mengingatkan, bahwa UU Guru dan Dosen menetapkan adanya 4 kompetensi guru, yakni kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kopmpetensi profesional. UKG selama ini hanya menguji kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, dan keduanya lebih banyak memotret ranah kognitif. Menurut Sudharto menilai kemampuan guru harus secara komprehensif, jangan parsial. Kemampuan guru mendidik siswa di dalam kelas dan diluar kelas dengan berbagai problematikanya juga harus dinilai, kemampuan berkomunikasi dengan teman sejawat dan lingkungan sekolah, serta kehidupan sosialnya juga harus dinilai. “Dengan kata lain, jika ingin mendapatkan gambaran utuh profesionalitas seorang guru maka empat kompetensi yang dipersyaratkan wajib dimiliki guru profesional semuanya harus dinilai”, tegas Sudharto.

Hal lain yang dapat mengurangi kreatifitas guru melakukan inovasi pembelajaran dan kreatifitas pengembangan diri menurut Sudharto karena para guru saat ini lebih banyak dibebani tugas administrasi yang begitu “njelimet”. “Mereka banyak kehilangan kesempatan untuk belajar guna meningkatkan kemampuan profesionalitasnya, karena terlalu lelah dengan tugas pokoknya dan tugas administrasi yang begitu banyak,” jelas Mantan Ka.Kanwil Depdikbud Jateng yang memiliki banyak pengalaman sebagai guru SD, guru SMP, dan guru SPG ini.

Pahamilah Persoalan Guru

Lia Maylani Hendriyanti, M.Pd, guru di kota Semarang menyatakan hebohnya UKG akhir-akhir ini membuat was-was guru. Apalagi kalau dipampangkan nilai UKG sebelumnya yang rata-rata sangat rendah itu. Grade berapapun yang akan dijadikan rata-rata dalam penerimaan TPG atau apalah namanya yang besok menurut berita akan dirubah, menurut Lia,  bukan menjadi ukuran seorang guru lebih profesional. Contoh yang ada di lingkungan sekolah, ada anak yang nilai pedagogiknya selalu tinggi tapi karakternya jelek, bahkan dalam pemerintahanpun menurut Lia banyak orang-orang pintar tapi pelayanannya terhadap masyarakat tidak memuaskan dan masih banyak yang korupsi. Guru yang profesional itu bukan hanya dinilai dari hasil UKG-nya saja. Pemerintah seharusnya memotifasi dan memfasilitasi para guru meningkatkan kualitasnya dengan memperbanyak pelatihan, melaksanakan sistem pendidikan yang baik dan bukan hanya sebatas baik dalam administrasi saja.

Pemerintah dan semua pihak mestinya membantu guru, bagaimana mengatasi kesulitan guru ditengah-tengah mengajar masyarakat menengah kebawah yang orangtuanya sibuk bekerja keras demi mempertahankan hidup. “Jika kita hidup di tempat ini, kita tidak akan mengingat lagi seberapa kemampuan kita dalam penguasaan materi tetapi bagaimana kita memperjuangkan semangat anak didik untuk dapat belajar dengan baik. Memahami sebuah materi saja guru memerlukan perjuangan”, jelasnya.

Jika seorang guru memperjuangkan TPG itu menurut Lia sangatlah wajar karena dari dulu guru seperti umar bakri. Perjuangan guru seperti mengolah benda hidup yang semakin hari semakin sulit karena adanya eforia dunia. Ia pun mengaku prihatin, para guru senior yang sudah banyak mengabdi untuk negeri ini untuk memperoleh TPG masih memerlukan perjuangan dengan selalu melakukan pemberkasan tiada henti. Sebenarnya jika kita mau menengok, banyak PNS selain guru yang sudah menerima remunerasi atau sejenisnya tanpa ada masalah apapun dan tidak perlu ribet. “Mengapa guru selalu dibuat heboh?”, Tanya dia.(d4)